Title in English: Remembering Our Heroes, Celebrating Life
Dalam semangat Hari Pahlawan (Indonesia), 10 November.
In the spirit of the (Indonesian)
Heroes Day, 10 November.
Di akhir Oktober, ada beberapa kabar duka yang menyita
perhatian saya. Yang paling utama adalah meninggalnya Bapak Suyadi alias Pak
Raden. Beliau adalah otak dibalik film boneka Si Unyil yang populer semasa saya
kecil dulu. Peran beliau adalah pembuat boneka-boneka, direktur artistik, pengisi
suara, dan akhirnya juga menjadi penulis naskah di film tersebut. Film ini
diputar setiap hari Minggu pagi di stasiun televisi satu-satunya saat itu,
TVRI. Alur film ini sangat sederhana dan sarat akan pesan yang mendidik. Ah,
yang usianya mirip dengan saya pasti tahu lah bagaimana bagusnya film boneka
ini, ya.
Kenangan masa kecil itu teringat kembali. Saya ingat pada hari Minggu, terbangun setiap pukul 7 pagi, mendengar lonceng gereja dari seberang
rumah eyang saya. Lalu kami cucu-cucu eyang bergegas mandi dan makan pagi,
supaya diperbolehkan untuk menonton film Si Unyil. Kalau belum mandi, tidak boleh
nonton Si Unyil. Dari komentar beberapa orang yang saya baca di media sosial,
rata-rata punya kisah yang sama tentang hari Minggu pagi di masa kecilnya! Hahaha. Saya juga ingat
cerita ibu, di mana saya terbangun di siang hari (saya lupa kenapa orangtua
tidak membangunkan saya), sehingga terlewat nonton film boneka ini. Menangis
lah saya seharian! Hahaha.
Saya membaca di laman Facebook tentang kabar beliau yang masuk rumah sakit. Di situ ada tautan ke akun Facebook Pak Raden. Ternyata sejak sekitar
5-6 tahun lalu, Pak Raden punya akun Facebook yang dikelola oleh anak buahnya.
Wah, jadi menyesal, kok saya baru tahu. Saya baca posting-an di akun tersebut di mana Pak Raden menjual suatu buku
seni (artbook), kumpulan
gambar-gambar karyanya. Ingin banget
punya! Lalu juga replika dari boneka-boneka di film Si Unyil. Adududuh, ini juga pengen banget, tapi satu buah saja harganya sudah lebih dari 1 juta
Rupiah dan kalau satu set sampai belasan juta Rupiah. Memang sih, karya seni
harus dibayar mahal, apalagi yang unik dan bernilai nostalgia seperti ini.
Beliau berhak untuk dibayar mahal atas karya-karyanya. Sayang hingga akhir
hidupnya, beliau tidak mendapatkan royalti dari Perusahaan Film Negara (PFN)
atas karyanya dalam film Si Unyil. Lebih sedih lagi, dari semua berita-berita
tentang meninggalnya Pak Raden, media massa Indonesia seperti biasa lebih suka berkutat
dengan pengambilan gambar jasad dan penguburan; tidak ada yang menilik lebih
jauh tentang reaksi PFN yang menurut saya tidak tahu malu dengan membuat
perjanjian hak cipta yang tidak adil dengan Pak Raden.
Bapak Suyadi adalah salah satu pahlawan masa kecil saya.
Walau Pak Raden adalah karakter antagonis di film boneka Si Unyil, tetapi ini
adalah ciri khas tak terlupakan dari film Si Unyil. Saya merayakan kenangan
manis itu. Selamat jalan, Pak Raden!
Foto ini diambil dari akun Facebook Pak Raden. Menurut saya
foto ini bagus sekali, sangat puitis dan sarat makna.
***
Kenapa saya menggunakan judul “merayakan kehidupan”? Konteksnya
kan berita duka, kok dirayakan?
Berita duka lain disaat yang hampir bersamaan adalah
meninggalnya rekan kerja saya, Ida Mori. Rekan-rekan kerja mengenalnya sebagai
perempuan Italia yang tegas dan anggun. Dia diketahui mengidap kanker paru-paru
yang sudah gawat sekitar 5 bulan sebelumnya, disebabkan oleh kegemarannya
merokok.
Ketika berita duka ini sampai ke teman-teman di kantor pada pagi hari, pimpinan tertinggi di unit kami langsung mengumumkan ke seluruh staf
untuk berkumpul di siang harinya untuk acara mengheningkan cipta. Sebagaimana
budaya di mayoritas negara Barat, setelah mengheningkan cipta biasanya mereka
yang memiliki kenangan indah dengan yang meninggal akan berbagi cerita indah
itu. Termasuk cerita lucu tentang almarhumah yang membuat kami tertawa
sekaligus menangis haru. Ini adalah suatu bentuk perayaan hidup atas yang
meninggal.
Saya pikir kebiasaan ini bagus. Kematian bukan melulu diisi
dengan doa-doa dan tangisan, tetapi juga mengingat kebaikan, jasa, dedikasi,
harapan dari yang meninggal dunia. Mirip seperti yang dilakukan keluarga besar
saya (dari garis bapak) setelah kami ditinggalkan eyang sejak tahun 2007.
Setiap ziarah ke makam eyang adalah piknik keluarga, seringkali lengkap dengan
berbagai macam makanan lezat. Tentu doa-doa menurut agama yang kami anut pasti
dilakukan. Tetapi setelah itu, saat-saat berkumpul seperti itu adalah sesuatu
yang patut dirayakan dan disyukuri. Ah, saya jadi ingat eyang…
Kembali tentang Ida. Hubungan kerja saya dengan Ida tidak
dekat karena kami sudah berbeda tim. Ida sangat berdedikasi pada pekerjaannya. Kesan
saya tentang dia adalah tegas dan perfeksionis, yang terkadang disikapi secara
negatif oleh beberapa orang. Tetapi saya mengerti jika dia bersikap demikian,
karena saya memiliki sifat yang mirip. Ida juga sering menyapa banyak orang.
“Ummita” adalah panggilannya untuk saya dengan cara Italia.
Ida adalah salah satu yang mewawancarai saya dulu untuk
jabatan saya yang sekarang. Ini jasa Ida buat saya yang tidak saya lupakan.
Ciao, bella. Selamat jalan, Ida!
 |
Foto ini saya ambil dari acara mengenang Ida Mori yang
diadakan oleh keluarganya.
|
***
Tulisan ini saya tutup dengan lirik lagu “Hymne Guru”. Lagu
ini diciptakan oleh Bapak Sartono yang juga meninggal awal November lalu. Lagu
bapak akan selalu abadi. Selamat jalan, Pak Sartono!
Terpujilah
wahai engkau ibu bapak guru
Namamu
akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua
baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai
prasasti terima kasihku tuk pengabdianmu
Engkau
sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau
laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau
patriot pahlawan bangsa
Insan
Cendekia
Catatan sejarah: menurut pencarian informasi online yang saya dapatkan, kalimat
terakhir lagu ini diubah sejak Hari Guru tahun 2008. Dari “tanpa tanda jasa”
menjadi “insan cendekia”.
 |
Foto diambil dari artikel Tempo:
http://nasional.tempo.co/read/news/2015/11/01/058714937/sartono-pencipta-hymne-guru-tutup-usia |
Labels: Thoughts, U.S. Life