1-2-3, Gigi Bungsu Hilang Sudah

Akhir tahun 2014, saya menyempatkan untuk memeriksakan gigi saya setelah sekian lama saya tunda. Melihat hasil x-ray, saya disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah mulut (oral surgeon), karena posisi gigi geraham bungsu kanan-bawah sangat mengkhawatirkan.

picture: drjpagandmd.com
Ini kasus yang mirip dengan gigi bungsu saya. "Your wisdom teeth is scary", my orthodontist said.


Tidak terasa 5 tahun yang lalu di Jakarta, saya pernah cabut satu gigi geraham bungsu, sisi kiri-bawah. Kisahnya dapat dibaca di tautan ini. Saya sudah tahu soal masalah gigi bungsu kanan-bawah sejak 5 tahun lalu itu, tetapi karena tidak terasa sakit apa-apa, saya jadi cuek. Tapi kemudian saya pikir, sampai kapan lagi mau ditunda untuk cabut gigi geraham bungsu yang kanan-bawah ini. Akhirnya saya meniatkan diri untuk bertemu dengan dokter spesialis bedah mulut.

picture: normandental.net
Ayo yang sudah berumur 20-30 tahun, segera cek dan operasi gigi bungsu Anda.


Pada dasarnya saya tidak begitu percaya dengan dokter, mengingat pengalaman yang lalu-lalu. Jadi saya mencari 4 dokter yang berbeda untuk berkonsultasi. Faktor biaya juga menyebabkan saya harus membandingkan ke dokter mana yang biayanya akan lebih rendah. Memang ada asuransi dari kantor, karena di Amerika Serikat ini, biaya kesehatan sangat mahal sekali jika tidak punya asuransi. Namun asuransi hanya menanggung 80%-90% dari total biaya, selebihnya saya harus bayar sendiri.

Singkat cerita, dari 4 dokter tersebut, semua menyarankan saya untuk ‘menghabisi’ sisa 3 gigi geraham bungsu! Alamaaaakkk. Trauma cabut 1 gigi bungsu 5 tahun lalu itu tiba-tiba kembali. Cabut 1 gigi saja proses penyembuhannya minta ampun, bagaimana kalau 3 gigi sekaligus??? Bisa-bisa saya tidak bisa makan lebih dari 2 minggu!

picture: pyohappy.deviantart.com
Cabut satu saja sengsara, bagaimana cabut sekaligus tiga?


Dokter ke-4 memberikan alasan bahwa daripada saya bolak-balik di kemudian hari, mending dicabut saja semua sisa 3 gigi bungsu itu. Beliau satu-satunya dokter yang penyampaiannya tidak terdengar memaksakan dibanding 3 dokter lainnya. Memang ada benarnya sih. Kalau melihat biaya, cabut 1 gigi saja sudah mahal sekali, ditambah biaya bius yang juga mahal. Ya, sudahlah, let’s get it over with!

Dokter ke-4 ini juga tidak memaksakan untuk melakukan bius total melalui infus. Sedangkan bujuk rayu 3 dokter yang lain adalah: kalau tidak dibius total, nanti saya akan mengingat proses operasi. Kalau dibius total nanti akan tertidur dan ketika bangun tidak perlu tahu apa yang terjadi saat operasi. Katanya orang sini mayoritas memilih bius total daripada bius lokal. Menurut saya sih, kok manja sekali. Saya berargumen ke para dokter ini bahwa yang paling penting itu proses penyembuhan. Mau ingat atau tidak ingat proses operasi, kalau masa penyembuhan sakitnya minta ampun, ya sama saja bohong toh? Dan juga jika dibius total, harus ada seorang kerabat yang bersedia menunggui kita dan nantinya akan mengantarkan kita pulang dari tempat praktek dokter, karena obat infus bius total akan lambat sekali berangsur hilang dari tubuh kita hingga sekitar 12 jam. Anak rantau macam saya mana ada keluarga di sini? Minta teman kantor menemani pun rasanya kurang sreg ya, walau ada yang menawarkan. Ini kan urusan kesehatan saya pribadi.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, saya memilih dokter ke-4. Kebetulan porsi biaya dari beliau yang harus saya tanggung sendiri juga lebih murah dibanding biaya ke dokter lainnya dan jadwal beliau cocok dengan jadwal cuti yang dapat saya ambil. Namanya dokter David Morgan. Letak prakteknya di Alexandria, Virginia. Agak jauh dari apartemen saya, sekitar 20 menit naik kereta metro, ditambah 10 menit berjalan kaki dari stasiun.

Saya menjadwalkan operasi hari Jumat pagi di minggu ketiga Januari, dengan harapan pada sisa Jumat itu dan Sabtu-Minggu penuh saya bisa istirahat memulihkan diri dan kembali kerja di hari Senin. Sebelum hari operasi, saya sudah menyiapkan persediaan makanan dengan membeli jus sayuran, susu, oatmeal, roti tawar, dan memastikan stok beras cukup. Tidak lupa juga mengisi beberapa botol air minum untuk dibekukan menjadi es untuk kompres pasca operasi.

Lima tahun lalu ketika masih di Jakarta, saya mudah menemukan restoran kelas menengah sampai warung tenda kelas kaki lima, yang menyediakan bubur. Nah, kalo di Amerika begini, mana ada yang jual bubur nasi? Jadilah saya yang tidak bisa masak ini harus belajar bagaimana membuat bubur. Dengan bantuan resep yang saya temukan di hasil pencarian Google, berlatih lah saya memasak bubur. Sukses? Tentu tidak :-( Padahal saya sudah ikuti takaran-takaran yang disarankan. Karena tidak boleh menyerah, saya hubungi ibunda tersayang nun jauh di tanah air. Kenapa tidak dari awal saja saya hubungi beliau ya? Dibimbingnya lah saya lewat WhatsApp chat soal takaran beras vs air. Jauh berbeda dengan resep yang saya temukan dari Google! Dengan tekun saya ikuti dan akhirnya 30 menit kemudian, jadi juga bubur buatan saya! Trims, ibuku sayang!

picture taken by me
Bubur pertama buatan saya :-)


Pada hari operasi, karena saya tidak akan dibius total, maka tidak perlu puasa 6-9 jam sebelumnya. Dokter Morgan menyuntikkan bius lokal beberapa kali di sekitar ketiga gigi geraham bungsu yang akan diambil. Bagi yang tidak tahan lihat jarum, pasti udah pingsan. Hahaha, jarumnya panjang dan bengkok seperti kaki nyamuk Aedes Aegypti diperbesar 1000 kali!

Saya sempat minta pada Dokter Morgan bahwa saya ingin lihat gigi-gigi yang sudah dicabut nanti, dan beliau mengiyakan. Namun tidak untuk gigi bungsu kanan-bawah. Letaknya yang tidak sempurna menyebabkan gigi yang satu ini harus ‘dipecah’ dengan bor, diambil sepotong demi sepotong. Wah, gawat sekali ternyata, ya. Tidak lama setelah gusi saya bebal, Dokter Morgan memulai operasinya. Uh, suara bor mengganggu banget. Tapi saya rileks saja, toh tidak terasa sakit karena sudah dibius lokal.

Total pencabutan 3 gigi bungsu memakan waktu kurang lebih 45 menit. Setelahnya saya diminta menggigit kasa untuk menahan pendarahan dan diberikan kertas instruksi Do’s and Don’t’s untuk 7 hari ke depan. Asisten dokter juga memberikan satu set kasa bersih sebagai cadangan dan satu ice pack sekali pakai untuk kompres. Ditambah juga resep obat antibiotik, obat penahan sakit (pain killer), dan cairan kumur khusus. Saya tidak merasakan sakit, hanya ‘tegang’ saja gusi dan kedua pipi saya, tidak bisa buka mulut, dan tentu terasa bahwa dalam mulut saya ini ada darah. Mungkin karenanya saya agak sedikit pusing juga.

Lima belas menit kemudian saya sudah menyelesaikan pembayaran di kasir dan diperbolehkan pulang. Saya tanya ke kasir (lewat tulisan, karena saya tidak bisa buka mulut), kapan saya harus kembali untuk mengangkat jahitan. Terkejut saya ketika dia menjawab bahwa tidak perlu kembali atau konsultasi lanjutan. Jahitan akan lepas dengan sendirinya nanti. Wah, hebat. Senang juga saya tidak perlu kembali, tetapi ada sedikit kekhawatiran bagaimana kalau proses pemulihan saya nanti tidak beres seperti 5 tahun lalu.

Berikut isi kertas yang diberikan dokter:

Hari pertama itu saya langsung kompres kedua pipi. Tetap tidak ada rasa perih di ketiga sudut bekas operasi lho. Tidak nyut-nyutan. Badan juga tidak demam. Kenapa 5 tahun lalu itu sengsara durjana banget, ya, cabut satu gigi bungsu? Heran saya.

Karena tidak boleh sikat gigi dan berkumur pada 24 jam pertama, maka saya memutuskan untuk tidak makan bubur dulu. Bisa kotor dong bekas lukanya kalau makan bubur dan setelahnya tidak boleh kumur atau sikat gigi. Perut saya isi dengan banyak minum air putih dan minum jus sayuran yang sudah saya beli sebelumnya, sehingga mengakibatkan saya bolak-balik buang air kecil tiap 30 menit. Setelah itu langsung saya minum air putih dan jus kembali.

Hari ke-2, saya sudah makan bubur. Tetap tidak ada rasa perih maupun badan demam, tapi pipi ini masih bengkak seperti pipi tupai (chipmunk) walau sudah saya kompres terus. Hari ke-3 pagi, saya makan roti tawar, dicuil-cuil seukuran ujung jari, lalu diemut. Saya takut mengunyah. Malam harinya saya malas sekali masak bubur. Lama, ya, masak bubur itu, capek mengaduknya, jadi saya beranikan makan nasi tambah kecap. Juga diemut. Hmm, tidak apa-apa ternyata. Demam yang saya khawatirkan juga tak kunjung datang. Hebat sekali dokter yang satu ini ya?

picture: dentistryforadult.com
Pipiku bengkak seperti 'chipmunk'


Hari ke-4, saya harus masuk kantor kembali. Pipi masih bengkak sedikit, mulut masih belum bisa membuka lebar, dan saya masih takut mengunyah. Sampai hari ke-8, nasi kecap setia menjadi bekal saya makan siang di kantor. Tidak lupa untuk selalu minum air putih. Sepertinya obat antibiotik yang diberikan membuat saya dehidrasi, saya selalu haus. Walau bagus sih, minum air putih secara teratur kan memang baik untuk kesehatan.

Hari ke-5, pipi sudah kembali normal, berkomunikasi juga sudah lancar. Saya diajak makan malam oleh salah seorang teman kantor. Masih takut mengunyah tapi ternyata saya sukses mengemut nasi, tahu, telor dadar, dan sayuran. Rasanya hari ke-6 mulut saya ini sudah kembali berfungsi normal. Hanya tetap harus hati-hati mengunyah dan menggosok gigi. Di sisi lain, saya menyadari bahwa berulang kali ada rasa migren (pusing terlokalisir) setitik di kepala sebelah kanan. Mungkin ini disebabkan karena saraf-saraf gigi masih menyesuaikan dengan kondisi pasca operasi.

Hari ke-7, saya sudah bisa makan ikan salmon yang lembut, dengan nasi dan tahu. Namun tidak berani mengunyah wortel karena keras. Hari ke-9, saya beranikan makan mie dengan sayuran potong kecil-kecil. Malamnya, bekas operasi sudut kanan-bawah sempat ngilu sampai saya tidak bisa tidur. Tetapi tidak sampai berlanjut keesokan harinya.

Demikianlah di hari ke-10 pasca operasi ini, saya sudah bisa makan secara normal, walau tetap hati-hati dalam menggosok gigi. Lega sudah tidak perlu lagi mengurus pasukan gigi bungsu saya. Thanks, Dokter Morgan!

Labels: ,