Tidak terasa 5 tahun yang lalu di Jakarta, saya pernah cabut
satu gigi geraham bungsu, sisi kiri-bawah. Kisahnya dapat dibaca di tautan ini.
Saya sudah tahu soal masalah gigi bungsu kanan-bawah sejak 5 tahun lalu itu,
tetapi karena tidak terasa sakit apa-apa, saya jadi cuek. Tapi kemudian saya
pikir, sampai kapan lagi mau ditunda untuk cabut gigi geraham bungsu yang
kanan-bawah ini. Akhirnya saya meniatkan diri untuk bertemu dengan dokter
spesialis bedah mulut.
 |
| picture: normandental.net |
Ayo yang sudah berumur 20-30 tahun, segera cek dan operasi gigi bungsu Anda.
Pada dasarnya saya tidak begitu percaya dengan dokter,
mengingat pengalaman yang lalu-lalu. Jadi saya mencari 4 dokter yang berbeda untuk
berkonsultasi. Faktor biaya juga menyebabkan saya harus membandingkan ke dokter
mana yang biayanya akan lebih rendah. Memang ada asuransi dari kantor, karena di
Amerika Serikat ini, biaya kesehatan sangat mahal sekali jika tidak punya
asuransi. Namun asuransi hanya menanggung 80%-90% dari total biaya, selebihnya
saya harus bayar sendiri.
Singkat cerita, dari 4 dokter tersebut, semua menyarankan saya untuk ‘menghabisi’ sisa 3 gigi geraham bungsu! Alamaaaakkk. Trauma cabut 1
gigi bungsu 5 tahun lalu itu tiba-tiba kembali. Cabut 1 gigi saja proses penyembuhannya
minta ampun, bagaimana kalau 3 gigi sekaligus??? Bisa-bisa saya tidak bisa makan
lebih dari 2 minggu!
 |
| picture: pyohappy.deviantart.com |
Cabut satu saja sengsara, bagaimana cabut sekaligus tiga?
Dokter ke-4 memberikan alasan bahwa daripada saya
bolak-balik di kemudian hari, mending dicabut saja semua sisa 3 gigi bungsu
itu. Beliau satu-satunya dokter yang penyampaiannya tidak terdengar memaksakan dibanding
3 dokter lainnya. Memang ada benarnya sih. Kalau melihat biaya, cabut 1 gigi
saja sudah mahal sekali, ditambah biaya bius yang juga mahal. Ya, sudahlah, let’s get it over with!
Dokter ke-4 ini juga tidak memaksakan untuk melakukan bius
total melalui infus. Sedangkan bujuk rayu 3 dokter yang lain adalah: kalau tidak dibius
total, nanti saya akan mengingat proses operasi. Kalau dibius total nanti akan tertidur
dan ketika bangun tidak perlu tahu apa yang terjadi saat operasi. Katanya
orang sini mayoritas memilih bius total daripada bius lokal. Menurut saya sih, kok
manja sekali. Saya berargumen ke para dokter ini bahwa yang paling penting itu proses penyembuhan. Mau ingat atau tidak ingat proses operasi, kalau masa penyembuhan
sakitnya minta ampun, ya sama saja bohong toh? Dan juga jika dibius total,
harus ada seorang kerabat yang bersedia menunggui kita dan nantinya akan
mengantarkan kita pulang dari tempat praktek dokter, karena obat infus bius
total akan lambat sekali berangsur hilang dari tubuh kita hingga sekitar 12 jam.
Anak rantau macam saya mana ada keluarga di sini? Minta teman kantor menemani
pun rasanya kurang sreg ya, walau ada yang menawarkan. Ini kan urusan kesehatan
saya pribadi.
Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, saya memilih dokter
ke-4. Kebetulan porsi biaya dari beliau yang harus saya tanggung sendiri juga
lebih murah dibanding biaya ke dokter lainnya dan jadwal beliau cocok dengan jadwal cuti
yang dapat saya ambil. Namanya dokter David Morgan. Letak prakteknya di
Alexandria, Virginia. Agak jauh dari apartemen saya, sekitar 20 menit naik
kereta metro, ditambah 10 menit berjalan kaki dari stasiun.
Saya menjadwalkan operasi hari Jumat pagi di minggu ketiga
Januari, dengan harapan pada sisa Jumat itu dan Sabtu-Minggu penuh saya bisa
istirahat memulihkan diri dan kembali kerja di hari Senin. Sebelum hari
operasi, saya sudah menyiapkan persediaan makanan dengan membeli jus sayuran, susu, oatmeal, roti
tawar, dan memastikan stok beras cukup. Tidak lupa juga mengisi beberapa botol
air minum untuk dibekukan menjadi es untuk kompres pasca operasi.
Lima tahun lalu ketika masih di Jakarta, saya mudah menemukan
restoran kelas menengah sampai warung tenda kelas kaki lima, yang menyediakan
bubur. Nah, kalo di Amerika begini, mana ada yang jual bubur nasi? Jadilah saya
yang tidak bisa masak ini harus belajar bagaimana membuat bubur. Dengan
bantuan resep yang saya temukan di hasil pencarian Google, berlatih lah saya memasak
bubur. Sukses? Tentu tidak :-( Padahal
saya sudah ikuti takaran-takaran yang disarankan. Karena tidak boleh menyerah, saya hubungi ibunda
tersayang nun jauh di tanah air. Kenapa tidak dari awal saja saya hubungi
beliau ya? Dibimbingnya lah saya lewat WhatsApp
chat soal takaran beras vs air. Jauh berbeda dengan resep yang saya temukan
dari Google! Dengan tekun saya ikuti dan akhirnya 30 menit kemudian, jadi juga
bubur buatan saya! Trims, ibuku sayang!
 |
| picture taken by me |
Bubur pertama buatan saya :-)
Pada hari operasi, karena saya tidak akan dibius total, maka
tidak perlu puasa 6-9 jam sebelumnya. Dokter Morgan menyuntikkan bius lokal
beberapa kali di sekitar ketiga gigi geraham bungsu yang akan diambil. Bagi
yang tidak tahan lihat jarum, pasti udah pingsan. Hahaha, jarumnya panjang dan bengkok seperti
kaki nyamuk Aedes Aegypti diperbesar 1000 kali!
Saya sempat minta pada Dokter Morgan bahwa saya ingin lihat
gigi-gigi yang sudah dicabut nanti, dan beliau mengiyakan. Namun tidak untuk
gigi bungsu kanan-bawah. Letaknya yang tidak sempurna menyebabkan gigi yang
satu ini harus ‘dipecah’ dengan bor, diambil sepotong demi sepotong. Wah, gawat
sekali ternyata, ya. Tidak lama setelah gusi saya bebal, Dokter Morgan memulai
operasinya. Uh, suara bor mengganggu banget. Tapi saya rileks saja, toh tidak
terasa sakit karena sudah dibius lokal.
Total pencabutan 3 gigi bungsu memakan waktu kurang lebih 45
menit. Setelahnya saya diminta menggigit kasa untuk menahan pendarahan dan
diberikan kertas instruksi Do’s and Don’t’s untuk 7 hari ke depan. Asisten
dokter juga memberikan satu set kasa bersih sebagai cadangan dan satu ice pack sekali pakai untuk kompres.
Ditambah juga resep obat antibiotik, obat penahan sakit (pain
killer), dan cairan kumur khusus. Saya tidak merasakan sakit, hanya ‘tegang’ saja
gusi dan kedua pipi saya, tidak bisa buka mulut, dan tentu terasa bahwa dalam
mulut saya ini ada darah. Mungkin karenanya saya agak sedikit pusing juga.
Lima belas menit kemudian saya sudah menyelesaikan
pembayaran di kasir dan diperbolehkan pulang. Saya tanya ke kasir (lewat
tulisan, karena saya tidak bisa buka mulut), kapan saya harus kembali untuk
mengangkat jahitan. Terkejut saya ketika dia menjawab bahwa tidak perlu kembali
atau konsultasi lanjutan. Jahitan akan lepas dengan sendirinya nanti. Wah,
hebat. Senang juga saya tidak perlu kembali, tetapi ada sedikit kekhawatiran
bagaimana kalau proses pemulihan saya nanti tidak beres seperti 5 tahun lalu.
Berikut isi kertas yang diberikan dokter:
- Selama 24 jam pertama, dilarang minum minuman
hangat/panas, berkumur, meludah, atau menggunakan sedotan.
- Untuk menahan pendarahan, gigit kasa selama 30
menit, lalu buang. Jika pendarahan berlanjut, ulangi prosedur ini.
- Minum 2-3 gelas air putih untuk mencegah rasa
mual sebelum minum obat. Segera minum obat sebelum bius hilang.
- Untuk mengurangi bengkak pada pipi, kompres
dengan es setiap 10 menit sekali (10 menit kompres, 10 menit istirahat, dan
seterusnya).
- Minum air dan jus buah sesering mungkin selama
48 jam pertama. Boleh makan makanan lembut, tetapi tidak boleh mengunyah selama
24 jam pertama.
- Setelah 24 jam, berkumur dengan larutan air
hangat yang diberi garam (235 ml air berbanding 1 sendok teh garam). Berkumur
secara berkala sangat disarankan selama 1 minggu pertama.
- Setelah 24 jam, boleh gosok gigi dengan
menghindari bagian bekas operasi.
- Rasa sakit mungkin akan dialami antara hari ke-3
dan hari ke-7.
Hari pertama itu saya langsung kompres kedua pipi. Tetap
tidak ada rasa perih di ketiga sudut bekas operasi lho. Tidak nyut-nyutan. Badan
juga tidak demam. Kenapa 5 tahun lalu itu sengsara durjana banget, ya, cabut satu
gigi bungsu? Heran saya.
Karena tidak boleh sikat gigi dan berkumur pada 24 jam
pertama, maka saya memutuskan untuk tidak makan bubur dulu. Bisa kotor dong bekas
lukanya kalau makan bubur dan setelahnya tidak boleh kumur atau sikat gigi. Perut
saya isi dengan banyak minum air putih dan minum jus sayuran yang sudah saya beli
sebelumnya, sehingga mengakibatkan saya bolak-balik buang air kecil tiap 30 menit. Setelah
itu langsung saya minum air putih dan jus kembali.
Hari ke-2, saya sudah makan bubur. Tetap tidak ada rasa
perih maupun badan demam, tapi pipi ini masih bengkak seperti pipi tupai (chipmunk) walau sudah saya kompres terus.
Hari ke-3 pagi, saya makan roti tawar, dicuil-cuil
seukuran ujung jari, lalu diemut. Saya takut mengunyah. Malam harinya saya
malas sekali masak bubur. Lama, ya, masak bubur itu, capek mengaduknya, jadi saya
beranikan makan nasi tambah kecap. Juga diemut. Hmm, tidak apa-apa ternyata. Demam
yang saya khawatirkan juga tak kunjung datang. Hebat sekali dokter yang satu
ini ya?
 |
| picture: dentistryforadult.com |
Pipiku bengkak seperti 'chipmunk'
Hari ke-4, saya harus masuk kantor kembali. Pipi masih
bengkak sedikit, mulut masih belum bisa membuka lebar, dan saya masih takut
mengunyah. Sampai hari ke-8, nasi kecap setia menjadi bekal saya makan siang di
kantor. Tidak lupa untuk selalu minum air putih. Sepertinya obat antibiotik
yang diberikan membuat saya dehidrasi, saya selalu haus. Walau bagus sih, minum
air putih secara teratur kan memang baik untuk kesehatan.
Hari ke-5, pipi sudah kembali normal, berkomunikasi juga
sudah lancar. Saya diajak makan malam oleh salah seorang teman kantor. Masih takut
mengunyah tapi ternyata saya sukses mengemut nasi, tahu, telor dadar, dan
sayuran. Rasanya hari ke-6 mulut saya ini sudah kembali berfungsi normal. Hanya
tetap harus hati-hati mengunyah dan menggosok gigi. Di sisi lain, saya menyadari
bahwa berulang kali ada rasa migren (pusing terlokalisir) setitik di kepala
sebelah kanan. Mungkin ini disebabkan karena saraf-saraf gigi masih menyesuaikan
dengan kondisi pasca operasi.
Hari ke-7, saya sudah bisa makan ikan salmon yang lembut,
dengan nasi dan tahu. Namun tidak berani mengunyah wortel karena keras. Hari
ke-9, saya beranikan makan mie dengan sayuran potong kecil-kecil. Malamnya, bekas
operasi sudut kanan-bawah sempat ngilu sampai saya tidak bisa tidur. Tetapi
tidak sampai berlanjut keesokan harinya.
Demikianlah di hari ke-10 pasca operasi ini, saya sudah
bisa makan secara normal, walau tetap hati-hati dalam menggosok gigi. Lega
sudah tidak perlu lagi mengurus pasukan gigi bungsu saya. Thanks, Dokter Morgan!