Malam tahun baru dan hari pertama tahun 2015 saya habiskan
dengan bersantai di apartemen. Laptop dan smartphone menjadi andalan saya
untuk berhubungan dengan ‘dunia luar’. Saya tidak tertarik menghabiskan malam
tahun baru dengan keriaan, karena hati ini masih berduka akan berbagai musibah
yang baru saja terjadi nun jauh di tanah air saya.
Yang paling menjadi sorotan seluruh dunia adalah tragedi
AirAsia QZ8501 yang jatuh di Pangkalan Bun. Saya terus mengikuti berbagai
pemberitaan media massa di Indonesia (lokal) maupun di luar Indonesia (asing)
mengenai peristiwa ini. Menarik juga mengamati gaya pemberitaan yang
berbeda-beda antara satu media massa dan lainnya, antara media massa lokal dan
asing.
Setelah proses pencarian yang melelahkan oleh Badan Search
and Rescue Nasional (Basarnas) dan TNI, akhirnya pada hari ke-3 mereka dapat
menemukan satu jenazah dan sedikit bagian pesawat. Namun sayangnya pada saat
inilah salah satu stasiun TV swasta di Indonesia mempermalukan bangsanya
sendiri. Banyak media massa asing bisa dibilang menyindir habis perilaku media
massa Indonesia, dikarenakan dengan tanpa
etika menayangkan jelas gambar jenazah korban yang ditemukan.
Saya pun marah ketika mengetahui sungguh tidak pakai hati
nurani oknum TV yang satu itu. Apalagi selanjutnya TV tersebut meminta maaf
dengan memberikan alasan bahwa hal tersebut “untuk memastikan kondisi temuan di
laut”. Sungguh menjijikkan, TIDAK ADA ALASAN YANG DAPAT DITERIMA. Sudah salah,
pakai alasan pula! Dengan format siaran langsung, juru kamera/reporter/kru
belakang layar seharusnya SUDAH MENYADARI bahwa gambar-gambar menyedihkan AKAN
tertangkap kameranya. Sehingga harus sigap untuk menyensor gambar-gambar yang
tidak pantas ditayangkan!
Tidak pantas menayangkan gambar jenazah apa pun
(termasuk yang diburamkan), kapan pun, dengan alasan apa pun, karena selain hal
ini menimbulkan traumatik kepada keluarga korban, juga TIDAK ETIS karena tidak
menghormati mereka yang sudah menjadi korban. Gambar korban BUKAN UNTUK DIJUAL!
Saya sangat setuju dengan Komisi Penyiaran Indonesia yang menyatakan bahwa “praktik
jurnalistik macam ini sangat tidak beretika dan tidak berperikemanusiaan”.
Beberapa teman saya (wartawan dan bukan wartawan) pun
mengungkapkan kemarahan yang sama lewat media sosial, terutama lewat Facebook. Salah
satunya adalah status Facebook dari alumni senior jurusan saya sewaktu kuliah
dulu yang sekarang bekerja di VOA (Voice of America) Indonesia di Washington,
DC. Sebelum hijrah ke Amerika Serikat, dia sudah berkarir sebagai jurnalis di
Indonesia dan Singapura. Ada juga status Facebook seorang mantan kontributor TV
yang dibagi (shared) oleh teman kantor saya dahulu. Kedua status Facebook ini
masing-masing mendapatkan banyak tanggapan dari teman-teman jurnalis mereka di
Indonesia. Saya tidak tautkan status Facebook itu di sini karena saya anggap hal
tersebut adalah milik beliau-beliau pribadi yang jika saya tautkan, sepantasnya
saya minta izin mereka dahulu dan saya tidak sempat melakukan itu. Saya sarikan
saja informasinya disini.
Dari berbagai tanggapan yang ada di status Facebook itu:
- saya sedikit lega bahwa banyak jurnalis
Indonesia lainnya yang juga mengecam keras penayangan gambar korban. Saya tahu
bahwa ada banyak wartawan yang berkualitas di Indonesia, namun sayangnya kerap
‘tertutup’ oleh wartawan yang tidak berkualitas. Karena pemberitaan tragedi
kecelakaan pesawat ini menjadi sorotan dunia, tentu saja kelakuan oknum
wartawan TV yang satu itu mencoreng dunia jurnalistik Indonesia secara
keseluruhan. Nila setitik, rusak susu sebelanga. Karenanya di atas saya
sebutkan, media massa asing menyindir cara pemberitaan media massa di
Indonesia, tentu tidak peduli bahwa hanya sebagian saja wartawan Indonesia yang
menyampaikan pemberitaan dengan tanpa mengindahkan kode etik jurnalistik.
- saya jadi tahu bahwa bukan hanya satu TV yang
menyiarkan gambar menyedihkan tersebut, tetapi juga dua stasiun TV lainnya yang
membeli rekaman dari TV pertama itu. Ada 2 stasiun TV yang berada dalam
helikopter militer yang menemukan jenazah, tetapi hanya satu stasiun TV yang
merekam gambar jenazah. Saya sebelumnya menduga bahwa jika bukan TV A yang
menyiarkan gambar menyedihkan itu, kemungkinan besar TV B pun pasti
melakukannya. Selama ini, cara pemberitaan peristiwa-peristiwa yang menimbulkan
adanya korban (hidup maupun meninggal dunia) oleh beberapa stasiun TV dan media
cetak di Indonesia sungguh MEMUAKKAN. Berita kriminal, berita kecelakaan di
darat/laut/udara, sudah dapat diprediksi akan memasukkan gambar-gambar yang
tidak etis dari korban maupun keluarga korban.
Bagaimana cara pemberitaan media massa di Amerika Serikat
jika terjadi tragedi serupa?
Kejadian menyedihkan yang menyita perhatian banyak orang
juga sering terjadi di Amerika Serikat. Yang termasuk peristiwa kriminal adalah
penembakan massal ataupun tidak massal tetapi melibatkan senjata api yang
sayangnya kerap terjadi setiap tahun, dan juga pengeboman di Boston tahun 2013.
Sedangkan kejadian bencana alam topan badai (hurricane) hampir terjadi pula setiap tahun karena benua Amerika
bagian Utara berada di jalur pergerakan badai ini.
Pemberitaan kasus penembakan tidak sekali pun
mempertontonkan korban luka-luka maupun jenazah yang meninggal dunia. Saya kira
pihak kepolisian dan aparat berwenang terkait juga berperan dalam hal ini.
Tempat kejadian perkara (TKP) atau crime
scene adalah tertutup dan tidak ada media yang diperbolehkan masuk untuk mengambil
gambar. Jika TKP-nya adalah wilayah terbuka seperti peristiwa pengeboman pada
lomba lari maraton di Boston maupun peristiwa bencana alam, memang ada gambar
korban luka-luka yang disiarkan tetapi tidak menjadi fokus utama pemberitaan
dan tidak ada gambar hingga masuk ke lorong/kamar perawatan rumah sakit. Tidak
perlu mengambil gambar menyedihkan dengan alasan untuk dokumentasi atau ‘pembuktian’
kepada pemirsa.
Aparat sendiri juga tidak mengumumkan gambar-gambar
menyedihkan. Jika pelaku tindak kejahatan turut tewas, gambar yang diumumkan
pun adalah semasa yang bersangkutan masih hidup, yaitu bisa dari foto semasa
sekolah, atau dokumentasi keluarga pelaku, atau dokumentasi arsip kepolisian jika
yang bersangkutan sebelumnya pernah tersangkut kasus kriminal. Ingatan saya
melayang ke peristiwa menyedihkan di tanah air di mana muka pelaku bom bunuh
diri (yang tentu sudah tewas) dipajang begitu saja. Tanpa disadari, ini juga
termasuk tidak etis.
Hal berikutnya adalah pemberitaan soal keluarga korban yang
ditinggalkan. Sudah tentu media ingin mendapatkan pernyataan, tetapi kalau
keluarga korban belum mau dan tidak mau tampil di depan media, tidak boleh dipaksa. Pada peristiwa penembakan massal di SD Sandy Hook di Newtown,
Connecticut, tidak ada berita tentang profil korban sampai akhirnya salah satu orang
tua korban mengadakan konferensi pers. Sang ayah yang anaknya tertembak memberikan
pernyataan melalui satu microphone
yang sudah disediakan, tidak ada belasan/puluhan microphones berdesak-desakan disorongkan. Tidak ada tanya jawab
dengan media. Publik menyaksikan bagaimana sang ayah ini menyatakan
kesedihannya dan kenangannya akan si anak. Ini sudah cukup. Hari-hari
berikutnya, keluarga korban lainnya mulai mau berbagi kisah, tetap dengan format
konferensi pers yang sama. Ingin gambar eksklusif? Bisa saja. Ada keluarga
korban yang memberi izin salah satu TV tertentu untuk masuk ke rumah mereka dan
memberikan wawancara. Yang pasti, jangan memaksa. Ada keluarga korban yang sama
sekali tidak mau tampil ke depan publik, biarkan saja, hormati keinginan mereka.
Saat korban dimakamkan, liputan juga harus menghormati
korban dan keluarga korban. Yang ditayangkan di TV saat pemakaman korban
penembakan adalah gambar dari luar tempat ibadah, di mana kerabat korban datang
untuk memberikan penghormatan terakhir. Ini sudah cukup. Bandingkan dengan pemakaman
korban kecelakaan pesawat di Indonesia di mana liang lahat pun disorot. Buat apa?
Bukankah bisa sorot batu nisannya saja nanti setelah keramaian usai? Walau
sebenarnya tidak perlu juga, tetapi ini lebih etis daripada juru kamera
berdesakan dengan keluarga korban hanya untuk ambil gambar liang lahat!
Tulisan saya ini menekankan pada perlakuan media terhadap
korban dan keluarga korban. Banyak teman saya yang juga membandingkan cara
media massa asing membahas suatu kejadian, yang jauh berbeda dengan cara media
massa lokal. Contohnya, media massa asing lebih cenderung masalah teknis (langkah
evakuasi, sudut pandang hukum), sedangkan media massa lokal cenderung membahas
hal yang mendramatisasi keadaan (firasat, perasaan setelah ditinggalkan
korban). Memang benar, tetapi saya tidak mau berpihak sepenuhnya pada media
massa asing. Mereka juga sering mengulang-ulang pembahasan karena belum ada hal
terbaru yang dapat diberitakan. Pembahasan mereka juga terkadang sok tau,
seakan Amerika Serikat tahu segalanya lebih baik dibandingkan dengan negara-negara
di belahan dunia lainnya. Belum lagi jika kasus yang dibahas berhubungan dengan
ras atau agama tertentu, mereka juga cenderung bias dan menggiring opini kearah
yang mereka mau. Jadi kembali saya tekankan bahwa tulisan ini adalah tentang
bagaimana media massa memberitakan korban dan keluarga korban.
Saya berharap media massa lokal dapat memetik pelajaran
berharga dari protes publik atas kelalaian penayangan gambar-gambar
menyedihkan. Mari kita bersama-sama mengawalnya. Dimulai dari diri sendiri,
tidak perlu dan jangan menyebarkan gambar jenazah dengan alasan apa pun.
Labels: Thoughts, U.S. Life