Pemerintahan Tutup?

Government shutdown itu apaan sih?”. “Kok bisa pemerintahan tutup?”. “Kalau 'gagal bayar' itu maksudnya bangkrut?”. “Kalau pemerintahan sudah jalan (open) lagi, apa sudah selesai masalahnya?”.

Bermacam pertanyaan saya terima dari teman-teman dan kerabat di tanah air ketika mereka mendengar berita tentang tutupnya pemerintahan Amerika Serikat (U.S. government shutdown) tanggal 1 Oktober 2013 lalu. Berikut saya coba rangkum dan sadur dari berbagai sumber media asing sampai shutdown berakhir tanggal 16 Oktober 2013 malam. Saya baca berita dari media massa Indonesia soal ini malah pusing, karena hasil terjemahannya banyak yang kurang tepat.
======================

Gedung Capitol


Tahun buku atau tahun fiskal Federal AS berakhir tanggal 30 September. Menurut undang-undang (UU) yang ada, jika Anggaran Pengeluaran dan Belanja Negara (APBN) untuk tahun fiskal yang baru belum disetujui Kongres pada tanggal tersebut, maka mulai keesokan harinya (1 Oktober) pemerintahan Federal AS tidak bisa berjalan (shutdown) sampai APBN disahkan. Kongres terdiri dari DPR (House of Representative) yang kini dikuasai Partai Republik (Republiken) dan Senat yang kini dikuasai Partai Demokrat.

Pemerintah Federal berarti Pemerintah Pusat, bukan Pemerintah Negara Bagian (Pemda). Maka yang terhenti karena shutdown ini hanyalah layanan/pengeluaran yang ditanggung oleh Pemerintah Pusat saja. Yang dimaksud dengan 'layanan' di sini termasuk pengeluaran atas gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pusat yang bekerja di berbagai Departemen/Kementerian, Badan, Biro, Komisi, Pengadilan, dan institusi militer. Namun, tentu saja ada bagian pemerintahan yang harus tetap berjalan. Hanya PNS Pusat yang memiliki jabatan 'penting' (essential) yang diizinkan masuk kerja (alias juga tetap dapat gaji), sedangkan sisanya yang tergolong 'tidak penting' (non-essential) dirumahkan atau cuti tidak dibayar (unpaid leave, alias tidak dapat gaji) selama shutdown berlangsung. Total PNS Pusat yang dirumahkan mencapai 800 ribu orang. Bayangkan, bagaimana kalau gaji Anda tiba-tiba di-stop begini?

Pengecualian tutupnya Pemeritah Pusat vs Pemda terjadi pada Pemda Washington, DC. Anggaran dasar Pemda DC menyatakan bahwa pengeluaran District of Columbia (DC) wajib disetujui Pemerintah Federal. Dengan kata lain, jika Pemerintah Pusat tutup maka Pemda DC juga kena getahnya. Padahal DC punya pemasukan sendiri dari pajak daerah dan sumber-sumber pendapatan daerah lainnya. Hal ini sejak dulu tidak lelah berulang kali diprotes oleh Walikota DC termasuk DPRD DC. Bahkan saat ancaman shutdown pada April 2011, Walikota DC dan beberapa Anggota DPRD DC sampai diborgol polisi karena protes tanpa izin di dekat Gedung Capitol.

Lho, kok, pernah hampir shutdown pada April 2011? Katanya tadi batas waktunya 30 September? Sebelum kejadian Oktober 2013, pernah ada shutdown sebelumnya?
Betul, shutdown pada Oktober 2013 ini bukan yang pertama kali. Shutdown terakhir dua kali terjadi pada masa pemerintahan Presiden Bill Clinton pada akhir 1995 dan awal 1996. Sebelum itu, +/- 35 kali terjadi di masa pemerintahan presiden-presiden sebelumnya. Ancaman shutdown pernah terjadi pada bulan April 2011 (bukan September/Oktober) karena pemecahan masalah hanya bersifat sementara. Pembahasannya nanti ada di bawah. Baca terus ya :)

Jadi kenapa tidak ada kesepakatan, sehingga shutdown terjadi?
Isu paling utama yang kali ini jadi sasaran tembak Republiken adalah program kesehatan masyarakat yang dijuluki 'Obamacare'. Program ini didasarkan pada UU Layanan Kesehatan yang lolos persetujuan Kongres pada tahun 2010 dan pelaksanaannya secara luas dimulai tanggal 1 Oktober 2013. UU ini mengamanatkan kemudahan pemberian asuransi kesehatan untuk masyarakat miskin dan yang lanjut usia---golongan yang selama ini dianggap tidak mampu untuk membeli asuransi kesehatan. Republiken yang menentang UU ini berargumen bahwa beberapa ketentuan dalam UU malah membuat APBN bengkak karena subsidi silang bagi masyarakat miskin dan yang lanjut usia. Sehingga Republiken menuntut APBN dikurangi, khususnya agar 'Obamacare' ini tidak bisa berjalan.

Kok begitu? Kan sudah ada UU-nya.
Nah, maka dari itu, Partai Demokrat gigih menolak berbagai usaha Partai Republik untuk menggagalkan pelaksanaan 'Obamacare'.

Gara-gara satu hal, hampir seluruh program Presiden dan layanan Pemerintah Pusat lainnya harus terhenti. Beberapa contoh diantaranya adalah berhentinya misi NASA (lembaga antariksa), berhentinya penelitian kesehatan di bawah NHS (Layanan Kesehatan Nasional), tertundanya penyelidikan kecelakaan transportasi di bawah Komisi Nasional Keselamatan Transportasi alias KNKT AS, tutupnya tempat tujuan wisata di berbagai wilayah AS dan luar negeri di bawah naungan Federal (Taman Nasional, Museum, Kebun Binatang Nasional, Monumen Peringatan, dll.). Saya sebut 'luar negeri' karena taman makam tentara AS yang gugur di Perang Dunia II misalnya, ada yang berada di Inggris dan Perancis. Ditutupnya taman makam ini menimbulkan kemarahan dari banyak warga AS atau keluarga tentara tersebut yang ingin berziarah.

Dampak negatif lainnya dialami Pemda DC (ditambah dengan terpaksa harus ikutan shutdown), Pemda Virginia, dan Pemda Maryland. Negara bagian Virginia dan Maryland adalah tetangganya DC. Sebagaimana halnya Jakarta Raya disokong oleh Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok yang masuk wilayah propinsi lain. DC adalah kota Pemerintahan Pusat. Tempat tinggal 800 ribu PNS Pusat yang dilarang bekerja tentu saja tersebar di DC, Virginia, dan Maryland. Jika mereka tidak bekerja dan tidak digaji, pastinya akan juga mengurangi aktivitas ekonomi di daerah-daerah tersebut. Selain itu, DC juga merupakan lokasi banyak tempat wisata Federal yang terpaksa harus ditutup sementara.

Dari gambaran di atas, tutupnya Pemerintah Pusat mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar, terutama dari sektor pariwisata dan industri penunjangnya (hotel, restoran, transportasi, dll.). Diperkirakan total perekonomian AS merugi setidaknya USD 24 miliar akibat government shutdown selama 16 hari.

Hari ke-10 shutdown, Kementerian Dalam Negeri menawarkan Pemda-Pemda untuk membuka tempat wisata Federal yang berlokasi di wilayah negara bagian masing-masing tetapi dengan biaya operasional ditanggung APBD. Enam Pemda langsung menyambut tawaran itu, demi bergeraknya industri penunjang di negara bagian tersebut dan kembali memberikan pemasukan pajak daerah. Contohnya adalah Pemda New York yang menanggung operasional tempat wisata Patung Liberty dan Pemda Arizona yang menanggung operasional Taman Nasional Grand Canyon.

Ketika shutdown terjadi, Presiden Obama langsung melakukan pidato kenegaraan untuk meyakinkan militer bahwa pembayaran gaji dan tunjangan untuk mereka tidak akan berpengaruh. Kongres juga akhirnya meloloskan keputusan untuk membayar gaji (secara rapel) seluruh PNS Pusat yang dirumahkan. Layanan permohonan visa melalui Kedubes AS di seluruh dunia juga dijamin tetap berjalan, walau proses visa di AS sendiri agak tersendat kalau lokasi kantor pemrosesannya berada di dalam gedung Kementerian/Departemen Federal yang ditutup.

Sedangkan Walikota DC sejak awal bersikap tegas untuk tetap membuka layanan Pemda, seperti Dinas Kebersihan (pengambilan sampah), Perpustakaan Daerah, Ditlantas (permohonan SIM dan KTP), dan bus Circulator $1. Beliau bersikukuh bahwa semua PNS Pemda DC tidak ada yang 'tidak penting' (non-essential). APBD cadangan digunakan untuk menutup biaya operasional dan hal ini didukung DPRD. Pak Wali juga tidak henti-hentinya menyatakan tuntutan APBD DC untuk 'dimerdekakan' dari APBN Federal.

Kalau 'gagal bayar' itu hubungannya apa?
Ada UU yang mengatur bahwa penambahan pagu utang (debt ceiling) harus disetujui Kongres. Sejak krisis ekonomi tahun 2008 yang dialami AS dan Eropa, pengeluaran pemerintah AS meningkat tinggi demi program-program yang mendorong ekonomi tumbuh dan stabil kembali. Karena pengeluaran tidak sebanding dengan pemasukan, maka pemerintah AS berhutang, salah satunya dengan menerbitkan surat berharga. Sebagian besar surat berharga AS dipegang oleh Cina.

Pagu utang terakhir sebesar USD 16.7 triliun sebenarnya sudah terlewati bulan Mei 2013 lalu. Tetapi Kementerian Keuangan diperbolehkan untuk menerapkan siasat akuntansi khusus demi menutupi pengeluaran dan membayar utang tanpa harus melebihi pagu utang yang berlaku. Hasil hitung-hitungan para ahli, usaha ini akan mentok pada tanggal 17 Oktober 2013. Dalam arti, jika Kongres tidak menyetujui kenaikan pagu utang, maka AS akan tidak mampu lagi membayar utang-utangnya (gagal bayar alias default) dan berbagai pengeluaran lainnya perlahan-lahan mulai tanggal 18 Oktober 2013, dengan perkiraan saldo benar-benar akan habis dalam satu bulan.

Bila itu terjadi, perekonomian dunia terancam kacau. Suku bunga akan naik, mendapatkan pinjaman akan lebih susah. Belum lagi ekonomi negara-negara pemegang surat berharga AS juga akan goyang, karena AS tidak bisa membayar utang yang jatuh tempo.

Mirip halnya jika Anda punya kartu kredit, maka Anda haruslah mampu membayar lunas utang kartu kredit Anda tepat waktu. Kalau sampai gagal bayar, salah satu akibatnya adalah catatan skor kredit Anda akan jelek dan akan susah meminjam uang di berbagai lembaga keuangan lainnya. Syukur-syukur tidak dikejar-kejar penagih utang (debt collector)...

Per tanggal 17 Oktober 2013 kan pemerintahan AS sudah berjalan lagi. Sudah beres masalahnya?
Ya dan tidak. Partai Republik akhirnya mengalah. Hasil pengambilan suara (voting) di tingkat Senat dan House meloloskan kesepakatan dimana APBN akan cukup untuk pengeluaran sampai 15 Januari 2014 dan debt ceiling cukup untuk membayar utang sampai 7 Februari 2014 (plus beberapa minggu dengan mengais dana yang tersisa).

Lho, maksudnya? Cuma 3 bulan?
Ya, begitu lah, nanti diperkirakan akan 'berantem' lagi. Ini juga mengapa pada tahun 2011 seperti diceritakan di atas, konflik shutdown terjadi pada bulan April dan bukan bulan September/Oktober. Pemecahan masalahnya, kesepakatan politiknya, hanya untuk jangka pendek. Begitu terus. Capek nggak sih? Frustasi rakyat AS kepada para politisinya tidak jauh beda dengan keadaan di Indonesia.

Jika Anda berencana untuk mengunjungi AS, harap diantisipasi ancaman shutdown berikutnya. Hitung waktunya dengan seksama kapan sebaiknya mengajukan permohonan visa. Jika shutdown terjadi lagi, bisa saja layanan permohonan visa AS nanti akan ikut berpengaruh. Selain itu, ingat juga bahwa banyak tempat wisata yang dioperasikan Pemerintah Federal akan ditutup.

Dari kesepakatan yang langsung ditandatangani Presiden Obama tanggal 16 Oktober 2013 menjelang tengah malam, patut dicatat bahwa Pemda DC juga diberikan keleluasaan untuk mengelola pengeluarannya tanpa perlu persetujuan Kongres, tapi lagi-lagi hanya untuk sementara, hanya sampai September 2014. Ya, paling tidak, jika shutdown terjadi lagi sebelum September 2014, masyarakat DC dan PNS Pemda DC sementara bisa bernapas lega.

======================

Dari berbagai sumber: ReadExpress.com, WashingtonPost.com, theGuardian.com, CNN.com, AlJazeera.com, BBC.com.

Labels: ,