Tidak terasa sudah satu bulan saya tinggal di wilayah
ibukota negeri adikuasa. Kangen sekali dengan Indonesia. Memang tanah air tidak
ada duanya deh. Walau banyak orang
hobi mengkritik dan menjelekkan negeri sendiri, saya sih selalu cinta mati dengan Indonesia.
Dari segi keuangan, agak berat saya melewati bulan pertama
ini. Saya harus benar-benar mengatur pengeluaran karena tabungan mata uang
dolar Amerika jumlahnya masih sedikit sekali. Saya masih belum terbiasa dengan
tingginya biaya hidup di sini. Kalau membeli sesuatu pasti menghitung dalam
hati, berapa harganya jika dalam Rupiah.
Saya juga dipusingkan dengan urusan tempat tinggal. Dua
minggu pertama, saya menumpang di apartemen teman-teman WNI. Tentu kalau numpang, ya, tidak enak lama-lama, harus
segera cari tempat tinggal sendiri. Cari apartemen ternyata susah, bukan saja
dari harga tetapi juga dari persyaratan dokumen yang harus dilampirkan.
Rumus "ada uang, pasti dapat" tidak berlaku
disini. Kalau pemilik apartemen tidak yakin dengan kondisi keuangan Anda dan
profil Anda secara keseluruhan, yang bersangkutan berhak menolak Anda menjadi
penyewa. Berbeda sekali dengan menyewa kos di Jakarta dan sekitarnya (saya
belum pernah sewa kos di daerah lain di Indonesia). Kalau ada uang, bayar pemilik
kos di muka, kita dapat deh sewa
tempat tersebut. Latar belakang tidak dicek, paling ditanya-tanya lisan saja
sedikit. Ya, kan?
Kelengkapan dokumen yang selalu diminta di sini adalah nomor
Social Security. Untuk mendapatkan
nomor ini, saya harus mengajukan aplikasi ke kantor yang berwenang dan sedikit
memakan waktu sampai akhirnya kartu Social
Security dikirimkan ke alamat tempat tinggal. Lah, kan saya baru mau cari tempat tinggal, bagaimana bisa
mengajukan aplikasi kalau alamat permanen saja belum punya? Tentunya tidak bisa
menggunakan alamat kantor. Saya juga tidak sreg
menggunakan alamat apartemen teman yang saya tumpangi.
Kalau tidak ada nomor Social
Security, biasanya Anda ditolak menyewa. Atau si pemilik membolehkan sewa tetapi
Anda disyaratkan untuk membayar deposit lebih dari 1 kali harga sewa bulanan.
Katakanlah harga sewa bulanan USD 1,500. Maka sebelum memulai sewa, Anda harus
membayar harga sewa bulan pertama (USD 1,500) ditambah deposit (2 x USD 1,500).
Memang sih ini mirip dengan mayoritas persyaratan sewa apartemen di Jakarta,
yang biasanya menerapkan minimal harus sewa 6 bulan atau 12 bulan dan harus
sanggup bayar di muka (bukan bayar bulanan). Tapi saya tidak siap uang sebanyak
yang diminta. Saya bukan orang berada. Tabungan di Indonesia tidak cukup, gaji
bulan pertama kerja di AS ini pun belum masuk.
Setelah terus mencari, akhirnya ada pemilik apartemen yang
bersedia menerima 'lamaran' sewa saya yang belum memiliki nomor Social Security dan tanpa membayar
deposit lebih dari 1 kali harga sewa bulanan. Beliau terlihat sudah berumur,
mengaku sebagai pensiunan bank. Awalnya beliau ragu-ragu, walau saya meyakinkan
bahwa saya bekerja di institusi yang mentereng. Surat keterangan kerja dari
kantor sudah saya siapkan. Beliau bertanya berapa gaji saya dan mengatakan
bahwa berdasarkan pengalamannya bekerja di bank, dia tahu hitung-hitungan
apakah seseorang bakal sanggup membayar harga sewa bulanan dengan mengetahui
gaji bulanan orang tersebut. Akhirnya beliau mengiyakan dan menyodorkan
perjanjian sewa untuk saya tanda tangani.
Hal lain yang harus menjadi prioritas di bulan pertama jika
Anda tinggal di AS untuk bekerja adalah membuat kartu kredit. Anti kartu
kredit? Saya juga. Saya punya satu kartu kredit di Indonesia hanya buat
jaga-jaga. Jarang sekali dipakai, sebulan sekali belum tentu. Tetapi kartu kredit
di AS penting untuk membuat credit score.
Semua aktifitas keuangan akan tercatat, dan profil Anda mengelola keuangan
ditentukan dari sini. Jika suatu saat Anda ingin membeli aset di AS, pihak yang
berkepentingan akan mengecek credit score
Anda. Saya belum paham detilnya bagaimana ini secara sistem terhubung dengan
nomor Social Security, tetapi bank
penerbit kartu kredit juga mensyaratkan nomor Social Security untuk mengajukan kepemilikan kartu kredit. Mengacu
kepada cerita saya soal sewa menyewa apartemen diatas, pemilik apartemen yang meminta
nomor Social Security tersebut
kiranya untuk mengecek credit score
Anda. Maka dari itu banyak pemilik properti yang menolak penyewa jika si
penyewa tidak punya nomor Social Security
dan juga jika ternyata credit score
Anda jelek (misalnya karena telat membayar tagihan-tagihan).
Oh, iya, kartu kredit juga umum digunakan di berbagai toko di sini. Jarang saya melihat orang berbelanja dengan membayar tunai. Kalau pun membayar pakai uang tunai, saya jarang melihat orang membawa atau bertransaksi dengan lembaran uang pecahan besar seperti USD 100. Jika Anda tidak punya pecahan kecil, lebih baik tukarkan dulu di bank terdekat karena belum tentu toko akan menerima uang pecahan USD 100 walau misalnya jumlah belanjaan yang harus Anda bayar adalah USD 90.
Labels: Travels, U.S. Life