Saya sudah kembali ke Jakarta sejak satu minggu yang lalu dan sudah mulai kembali masuk kantor. Berikut seri terakhir dari cerita saya tentang mudik di tahun 2011 ini.
Lebaran tahun ini, hari H-nya kembali ada 2 versi. Saya ikut versi pemerintah saja. Mau ikut versi satunya lagi juga tidak apa-apa, tapi kebetulan di sekitar tempat tinggal nenek saya tidak ada mesjid yang merayakan Lebaran lebih dulu.
Kembali ke Jakarta, saya menggunakan bus Damri. Tiket sudah saya beli jauh hari pada awal kedatangan saya di Tanjung Karang. Untuk di Tanjung Karang ini, pangkalan bus Damri berada satu lokasi dengan Stasiun KA Bumiayu. Untuk di Jakarta, pangkalan berada di komplek Stasiun KA Gambir. Kita hanya boleh beli satu arah dan langsung di tempat. Mbak/mas penjaga loket akan mencatat pesanan waktu keberangkatan dan nomor kursi yang kita inginkan, dan memberikan tiket setelah kita melakukan pembayaran tunai. Harga untuk kelas Bisnis adalah IDR 115,000 per orang dan kelas Eksekutif adalah IDR 150,000 per orang. Semua bus pakai AC. Bedanya hanya kalau Eksekutif, ada WC di bagian belakang bus.
Saya berangkat ke Jakarta 2 jam setelah shalat Ied selesai. Bus biasanya berangkat tepat waktu. Ya, ada telat sekitar 5-10 menit saja. Jadwal yang ada seingat saya adalah pukul 8.00; 10.00 dan juga 2 kali di waktu malam. Saya pilih berangkat pagi biar lebih segar dan bisa lihat pemandangan di jalan. Karena saya berangkat tidak lama setelah shalat Ied usai, jalan raya juga masih sepi sekali. Tidak macet. Tidak begitu khawatir kalau bus terkadang agak ngebut.
 |
| Jalan tambal sulam |
Bus tiba di pelabuhan Bakauheni 2 jam kemudian. Pelabuhan juga masih sepi. Namun, harus menunggu sekitar 20 menit antri masuk kapal ferry karena kapal baru datang merapat. Sehingga harus menunggu penumpang yang datang dari pelabuhan Merak untuk keluar dan garasi kosong. Ketika akhirnya masuk, garasi hanya terisi setengahnya. Wah, enaknya, lumayan lega.
Saya dapat naik kapal ferry Titian Nusantara. Sepertinya saya sudah pernah beberapa kali naik kapal ini sebelumnya. Terdapat garasi 'atas' atau tingkat 2, untuk parkir mobil. Dek penumpang ada 3 tingkat. Ada yang pakai AC, ada juga yang tidak. Yang pakai AC pastilah ditarik bayaran tambahan. Males ah, saya ingin jalan-jalan dan foto-foto saja selama pelayaran. Objek foto ya tidak jauh-jauh dari laut dan beberapa pulau kecil yang dilewati dari jauh. Saya tidak tahu nama pulau-pulau tersebut. Ada penghuninya tidak ya? Saya juga foto fasilitas kapal. Hmm, sepertinya sekoci sudah lama tidak disentuh karena bungkusnya kotor. Bagus sih, berarti tidak ada kejadian darurat, sehingga sekoci tidak perlu digunakan. Tapi apa tidak ada perawatan ya?
Di dalam kapal juga ada 'kantin-kantin' kecil, tersebar di tiap tingkatan dek. Lucunya mereka sebut itu 'drugstore', ada tulisannya begitu. Apanya yang 'drugstore', ya? Wong jualan makanan kecil, kopi, dan rokok. Saya membayangkan apakah ada produk kadaluwarsa yang dijual. Hahaha. Lalu harganya juga fantastis lho. Mie instan gelas saja IDR 15,000 per buah.
Setelah lelah keliling kapal, akhirnya saya cari kursi kosong di dek paling atas. Sempat mencoba tidur, tapi tidak nyaman. Jadi hanya merem melek mata saja. Bosan. Mau menyalakan laptop, tapi tidak ada colokan listrik yang bebas digunakan kalau baterai nanti habis. Ketika pelabuhan Merak sudah kelihatan dari kejauhan, saya pindah ke dek penumpang tingkat 1. Duduk di depan 'drugstore' di lantai tersebut dan mencoba tidur kembali.
Hmhh, lama juga nunggu kapal antri merapat. Ada hampir 1 jam kapal berhenti. Menyebalkan. Ketika merapat, total lama pelayaran hampir 3,5 jam! Padahal ketika berangkat ke Tanjung Karang, waktu itu kapal hanya memakan waktu sekitar 120 menit seperti yang dijanjikan kapten kapal di awal pelayaran.
Dari pelabuhan Merak, bus menuju Jakarta melalui jalan tol. Dari marka jalan yang ada, jarak yang ditempuh mencapai setidaknya 100 km. Akhirnya saya sampai juga di stasiun Gambir dalam waktu 2 jam. Dari Gambir, saya naik taksi ke tempat tinggal saya. Tips untuk naik taksi di Gambir: tunggu sampai dapat taksi yang Anda percayai. Banyak taksi merk 'abal-abal' dan mereka akan berebut merayu Anda untuk naik taksi mereka. Untung saya segera dapat taksi yang menurut saya lumayan bagus.
Insya Allah, ketemu lagi di cerita perjalanan berikutnya. Adios.Labels: Travels