Sudah berpuluh kali mengunjungi Tanjung Karang, hanya sesekali saya berkesempatan untuk berkendara ke pusat kota. Jantung bisnis kota dipenuhi oleh rumah toko alias ruko tingkat 3 atau 4. Saya tidak mendapati ada gedung kantor menjulang seperti di Jakarta, kecuali beberapa pusat perbelanjaan (mal) kecil. Hampir semua toko atau gedung memajang simbol mahkota khas Lampung di atas atau di sebelah nama toko mereka. Di mal-mal kecil tersebut, ada gerai Giant dan Carrefour, dan McDonalds. Lalu ada mal yang menjadi satu-satunya lokasi bioskop jaringan 21. Saya juga mendapati gerai Ramayana dan toko buku Gramedia. Semua bank milik pemerintah memiliki kantor cabang di gedung tersendiri. Sedangkan, cabang bank yang paling sering ditemui adalah BCA dan Bank Mandiri.
Untuk urusan belanja rumah tangga, supermarket Chandra sepertinya paling dipilih masyarakat kota. Bukan iklan lho, tetapi memang Wisma Chandra ini selalu ramai. Gedung ini diisi oleh pasar swalayan dan department store Chandra, gerai KFC, gerai bakso Lapangan Tembak, salon Jhonny Andrean, serta beberapa kios kecil, dan dilengkapi beberapa mesin ATM bank-bank ternama. Grup bisnis Chandra adalah pemain lokal Tanjung Karang. Menurut saudara saya yang tinggal di kota ini, harga barang di Chandra lebih murah dibanding 'pemain' supermarket tingkat nasional seperti Giant dan Carrefour. Selain pusatnya di Wisma Chandra, terdapat juga gerai berukuran kecil bernama ChaMart atau Chandra Mini Mart, tersebar di sekeliling kota. ChaMart bisa dikatakan sebagai duplikat gerai-gerai Indomart/Alfamart yang banyak sekali ditemui di pelosok Jakarta. Gerai Indomart/Alfamart kecil sendiri jarang ditemui di kota ini.
Sarana transportasi untuk mengelilingi kota dengan nyaman, sayangnya hanya jika Anda membawa kendaraan pribadi (mobil atau motor). Jika ingin naik kendaraan umum, yang tersedia adalah angkutan kota (angkot) dan becak. Becak sebaiknya digunakan untuk jarak pendek saja. Kalau jauh, hmm, kasihan juga abang becaknya, ya, dan juga suasana jalan raya tidak senyaman seperti jika kita 'berbecak' di Yogyakarta. Sedangkan bus hanya ada untuk rute perjalanan jauh ke terminal Rajabasa atau Panjang (luar kota Tanjung Karang).
Kedekatan budaya antara Sumatera Selatan dan Lampung sangat terasa. Produk penganan khas Sumatera Selatan seperti berbagai jenis pempek dan krupuk 'kemplang' dapat ditemukan di Tanjung Karang. Jika ingin membeli oleh-oleh penganan lain, Anda bisa mengunjungi "Gang PU", kawasan sentra industri rumahan yang memproduksi keripik pisang. Di sepanjang jalan, berjejer tenda maupun ruko yang menjual keripik pisang dengan berbagai rasa: mulai dari rasa jagung bakar, cokelat, mocca, stroberi, hingga keju dan susu. Gerai ruko biasanya sudah menjual kemasan ukuran kecil 200-300 gram, sehingga tidak perlu repot menimbang lagi.
Tetapi kalau Anda mencari suvenir khas Tanjung Karang atau Lampung, sayangnya sulit sekali ditemui di kota ini. Kaos bergambar Tanjung Karang atau gajah (dimana Lampung terkenal dengan gajahnya) atau mahkota khas Lampung, tidak pernah saya jumpai. Apalagi pin, magnet kulkas, boneka gajah, dan lain-lain. Sekali waktu saya pernah menemukan satu toko menjual gantungan kunci berbentuk mahkota khas Lampung, tetapi kualitas pengerjaannya sangat jelek, lemnya sangat tidak rapi.
Ada sih satu jenis suvenir lain yang banyak dijual di kios-kios di pinggir jalan lintas Sumatera. Yaitu produk kerajinan kulit kerang yang dibentuk atau dijalin sedemikian rupa membentuk tirai atau tempat lampu yang cantik. Namun, mahal tentunya dan harus hati-hati membawanya pulang. Demikian juga jika Anda mencari tapis Lampung, yaitu kain khas Lampung semacam songket Palembang atau ulos Batak. Dijamin mahal harganya!Labels: Travels