Tahun 2011 ini, Lebaran atau Idul Fitri jatuh di akhir bulan Agustus. Saya sudah cuti sejak seminggu sebelum Lebaran untuk mudik ke rumah keluarga besar ibu saya di Tanjung Karang, Bandar Lampung.
Saya dan keluarga berangkat H-5 atau 5 hari sebelum Lebaran tiba. Waktu menunjukkan hampir pukul 10.00 pagi ketika kami berada di daerah Blok M. Dari tol dalam kota Jakarta, jarak yang harus ditempuh ke pelabuhan Merak mencapai sekitar 92 kilometer. Biaya tol sekitar IDR 50,000. Saya sampai lupa menghitung jumlah tepatnya karena melewati gerbang pembayaran tol beberapa kali. Keadaaan jalan tol arah Merak masih lengang.
Tiba di pelabuhan Merak sekitar pukul 12.00 siang, tidak ada antrian masuk ke gerbang pelabuhan. Mobil pribadi diharuskan membayar IDR 232,500 per mobil. Pengalaman beberapa tahun lalu, saya tidak diberikan uang kembalian penuh, maka kali ini saya bayar dengan uang pas termasuk 500 peraknya! :) Si pak petugas memberikan kartu tanda masuk, bukti pembayaran (yang sepertinya hasil cetak komputer), dan daftar isian penumpang. Pikir saya, bagus juga kali ini penumpang di data. Eh, but, wait, bagaimana mendata penumpang yang naik angkutan bus???
Petugas di lapangan mengarahkan kami untuk antri ke dermaga 2. Sudah ada kapal penumpang Dharma Kencana IX yang berlabuh. Sekitar 15 menit kemudian, kami sudah antri terdepan untuk masuk ke 'garasi' kapal. Sebelum masuk 'garasi', kartu tanda masuk dan daftar isian penumpang tadi diberikan ke pak petugas pengatur lalu lintas kendaraan. Tapi dia menolak daftar isiannya. Laaah, kalau begitu buat apa dong itu daftar isian? Konsep sih bagus, tapi pelaksanaan tidak oke. Baru kalau ada kejadian deh, bakal saling tunjuk. Samar-samar saya ingat, Januari 2011 lalu terjadi kecelakaan laut pada penyeberangan Merak--Bakauheni ini. Bismillah, semoga tidak terjadi lagi.
Ada sekitar 10-15 mobil lain masuk di belakang kami, lalu 'garasi' ditutup. Saya naik ke dek penumpang, mencari tempat duduk. Hmm, pemandangan baru. Saya menyadari saya belum pernah naik kapal ini. Sepertinya bukan kapal yang biasa dioperasikan untuk rute Merak-Bakauheni p.p. Ruangan penumpang seluruhnya ber-AC. Ruangan utama cukup luas, dengan panggung dan TV plasma, lalu terdapat sofa-sofa empuk (bukan sekadar kursi). Ruangan-ruangan di belakangnya lebih kecil, ada dipan-dipan 2 tingkat berkarpet, saling berhadapan. Ada TV juga di setiap ruangan ini. Rapi dan bersih. Oh, well, tidak bulukan lah. Untuk penumpang yang tidak kebagian duduk di sofa maupun dipan, digelar karpet di lorong yang masih kosong. Karpetnya juga terlihat bersih. Gratis lho. Tumben, biasanya di kapal lain menggelar tikar buluk juga akan ditarik bayaran...
Agak lama juga kapal berangkat, sekitar 30 menit kemudian. Kemungkinan karena lalu lintas kapal yang padat, karena saya lihat melalui jendela, kapal di dermaga sebelah berlayar lebih dulu. Ketika hendak berangkat, terdengar pengumuman bahwa perjalanan akan memakan waktu sekitar 120 menit. Lalu di TV, diputar video panduan menghadapi situasi darurat dan cara memakai pelampung. Nah, begitu dong, bagus. Seperti kalau naik pesawat, pasti video ini harus disampaikan dulu sebelum kapal berangkat. Sayang karena jeda yang agak lama antara naik kapal dan keberangkatan kapal, sebagian penumpang di ruangan saya sudah tertidur pulas dan tentunya tidak melihat video penting ini.
Sekitar 120 menit kemudian, kapal berlabuh di pelabuhan Bakauheni. Saya sempatkan untuk naik ke dek atas sebentar sebelum turun ke 'garasi' mobil. Wah, ternyata bagus lho. Ruang terbuka, ada meja-meja kayu seperti di cafe pinggir pantai, lengkap dengan 'payung'nya. Enak juga duduk di luar situ, ya, selama pelayaran. Tentu, kalau tidak hujan.
Keluar pelabuhan, kami berhenti hampir 1 jam di rest area Rumah Makan Siang Malam untuk istirahat shalat. Lalu melanjutkan perjalanan ke kota Tanjung Karang. Jalanan setelah PLN Tarahan sangat berdebu, banyak kerikil, dan bergelombang. Musti hati-hati dan pelan-pelan. Kok belum diperbaiki toh jalanannya. Bagaimana ini, Pak Gub? Biasanya walaupun tambal sulam, saat libur Lebaran begini perbaikan jalan sudah terlihat hasilnya.
Akhirnya, kami tiba di kota Tanjung Karang sekitar pukul 16.30 sore. Sampai bertemu di cerita Mudik 2011 berikutnya.Labels: Travels