Kunjungan ke 3 Dokter Spesialis

Saya berkunjung ke 3 dokter spesialis di bulan April--Mei 2011 lalu. Lengan kiri saya sakit sekali dan saya ingin tahu apa sebabnya. Tentu saya juga ingin apa pun penyakit yang saya derita ini sembuh. Berikut sedikit cerita saya.

Dokter 1 di RS 1
Kelihatan memang sudah senior (tua maksudnya...)

- Dokter 1: (melihat hasil rontgen lengan saya) Ini kenapa? Pernah kepentok? Harus dioperasi nih.
- Saya: Haaa? Dioperasi, dok? Ngngng... Ooo, gitu (Bingung. Belum-belum kok langsung diminta operasi?). Emang kenapa ya, dok? Nggak pernah kepentok, tuh, dok.
- Dokter 1: Tulang numbuh.
- Saya: (tambah bingung) Ha?
- Dokter 1: Iya, harus dioperasi. Tapi sekarang saya kasih obat dulu (sambil nulis resep).

(ketika saya menebus resep ke apotik RS 1)
- Saya: (sambil menggerutu melihat total angka yang harus dibayar) Ha, kok mahal amat ya, Mas.
- Mas Apoteker: (sambil masukin obat-obatan ke plastik) Yang ini diminum sehari sekali. Yang ini [...]. Yang ini [...]
- Saya: (bengong ngeliat kemasan obatnya banyak banget di tangan si Mas) Mas, itu "porsi"nya kok banyak amat? (Obatnya 1 bulan juga tidak akan habis, kali)
- Mas Apoteker: (nyengir kuda) Di resepnya begitu.
- Saya: ... (itu dokter banyak sekali kasih obatnya, padahal cuma vitamin doang!)

Dokter 2 di RS 2
Lebih muda dari dokter 1.

- Dokter 2: (melihat hasil rontgen lengan saya) Ini pasti sakit ya? Harus disuntik. Tapi bisa juga di"angkat", dioperasi.
- Saya: (muka miris) Disuntik, dok? Sakit nggak ya? (*stupid question*) Atau dioperasi ya, dok? Sebabnya memang kenapa sih, dok?
- Dokter 2: Mmmm, ya banyak (nadanya tidak meyakinkan).
- Saya: (mulai kesel) Ya, kenapa gitu, dok. Soalnya nggak pernah kepentok atau jatoh, tuh.
- Dokter 2: Ya, ini saya kasih obat minum dulu, ya (sambil nulis resep).
- Saya: ... (Jadi sakitnya saya ini kenapa? Hhhhh.)

Dokter 3 di RS 3
Seorang profesor, mantan ketua asosiasi dokter spesialis dibidangya, dan lain-lain, sederet nama asosiasi dan jabatan ada di kartu namanya.

- Saya: (masuk ke ruangan, ucap salam, basa-basi) Iya, ini prof, lengan sakit (sambil menyerahkan hasil rontgen).
- Dokter 3: (mengangkat tangan, menyuruh saya stop bicara) Sebentar... (matanya menuju ke sesuatu di belakang saya).
- Saya: ... (ikut melihat ada apa di belakang saya... Oh, my God, ada TV lagi menayangkan sinetron. Ini Profesor nonton sinetron ketika lagi periksa pasien!!!????!!!!! *super ilfil*)
- Dokter 3: (mengalihkan pandangan dari TV, tayangan sedang jeda iklan) Ya, kenapa tadi?
- Saya: (tidak semangat) Iya, ini lengan sakit, Prof.
- Dokter 3: (melihat hasil rontgen) Oo, ini namanya XXXXXX (menyebutkan nama latin yang tentunya saya tidak mengerti!)
- Saya: Ha? Apa, Prof?
- Dokter 3: XXXXXXX (kembali mengulang nama latin tadi)
- Saya: Ngng, itu apa ya, Prof?
- Dokter 3: Ya, itu (dengan nada sok). Sini coba lengannya saya lihat.
- Saya: (mulai sebel. Sambil menyodorkan lengan kiri) Kenapa sebabnya ya, Prof?
- Dokter 3: ... (tidak menjawab, lalu menekan titik sakitnya lengan saya kuat-kuat)
- Saya: (teriak kenceng) Aaaaaaaaaaaaaaaa, sakitttttttt!!!
- Dokter 3: Ok, disuntik aja, nih. Suster, suntik.
- Saya: ... (buset, kok tau-tau mau nyuntik aja. Tapi pasrah)

(setelah lengan kiri saya disuntik oleh Suster)
- Saya: (sambil menahan sakit) Jadi sebabnya apa ya, Prof? Kan pengennya jangan menyebar sakitnya kemana-mana gitu, Prof. Terus, nanti setelah disuntik ini akibatnya gimana, Prof?
- Dokter 3: Ya nanti kita lihat di kunjungan minggu depan.
- Saya: ... (Amit-amit. Ogah. Saya tidak mau lagi balik ke Prof ini. Huh!)

-------------------------
Begitulah petualangan saya ke 3 dokter spesialis yang tidak akan saya kunjungi lagi, Saudara-saudara.

Saran saya, jika Anda merasa ada sakit yang tidak biasa, cobalah selalu cari 2nd-3rd-4th opinion sebelum memutuskan tindakan berat (dan mahal) yang akan dilakukan. Walaupun keluarga Anda punya dokter langganan atau dokter kenalan si itu si anu, tidak menjadi jaminan. Walaupun Anda ke dokter ternama/terkenal, tidak juga jadi jaminan. Terutama jika dokter-dokter tersebut tidak mau menerangkan kira-kira penyebab sakitnya Anda dengan gamblang (tanpa perlu ditanya berulang kali) dan tidak menggunakan bahasa yang mudah dimengerti orang awam seperti Anda.

Saya tahu pasti ada dokter-dokter Indonesia lain yang bisa dengan ramah dan sabar melayani pasien-pasiennya dengan tulus, yang tanpa segan menjelaskan sebab musabab penyakit yang diderita pasiennya, dan yang tidak money-oriented. Sayang saya belum menemukannya.

Labels: