Tugas ke Banda Aceh (setahun yang lalu)

Hai! Hari ini saya berulang tahun!  Saya teringat satu tahun lalu, dari bulan Juli 2009 sampai pertengahan September 2009, saya ditugaskan ke kantor cabang di Banda Aceh. Saya tidak update blog sama sekali tahun lalu karena kesibukan saya. Berikut ini sedikit ceritanya.

Penerbangan
Karena biaya ditanggung kantor, maka saya naik Garuda Indonesia. Pada waktu itu tidak ada rute penerbangan langsung. Saya selalu mendapatkan jadwal penerbangan dengan transit di Medan. ‘Transit’ disini adalah: ketika sampai di bandara di Medan, turun pesawat, antri masuk ruang tunggu; saat di ruang tunggu, belok lagi antri untuk masuk ke pesawat kembali. Hahaha. Hanya sekitar 30 menit. Entah kenapa prosedurnya demikian.

Transportasi
Lagi-lagi karena ditanggung kantor, maka ke mana-mana saya diantar mobil kantor. Di Banda Aceh sendiri, saya jarang melihat ada angkutan umum.

Penginapan
Walau biaya ditanggung kantor, tetapi saya harus mencari penginapan sendiri. Karena tugasnya agak lama, akan sangat tinggi biayanya jika saya tinggal di hotel. Ada satu hotel bintang tiga di Aceh, lainnya terklasifikasi di bawah itu (hotel kelas melati atau motel atau guest house).

Pada satu bulan pertama, saya kos di dekat kantor. Saya tidak masalah dengan kamar yang tidak ber-AC, asalkan ada ventilasi yang cukup. Sayangnya ternyata suhu kamar saya sangat membuat saya gerah. Dan satu hal yang luput dari perhatian saya adalah: kos saya ternyata tidak memiliki generator listrik.

Generator listrik sangat dibutuhkan di Aceh, yang mana sambungan listriknya sering byar pet. Mati listrik bisa memakan waktu berjam-jam. Kalau listrik mati ketika saya kembali dari kantor, wah, mati gaya di kamar. Tidak bisa menggunakan laptop atau telepon seluler karena jika baterai habis akan tidak bisa mengisi daya kembali. Tidak bisa menyalakan kipas angin. Tidak bisa ke kamar mandi karena air yang dioperasikan mesin jet pump pun mati! Kalau ingin BAK atau BAB, bagaimana untuk cebok dan menyiramnya nanti?

Pernah di satu akhir pekan, saya akhirnya menginap di Hotel Medan yang berada di pusat kota, hanya agar saya bisa mandi! Hotel ini namanya saja “Medan”, tetapi berada di pusat kota Banda Aceh dekat kawasan pertokoan Rex. Pernah juga ketika ada rekan wanita dari kantor Jakarta yang ditugaskan selama beberapa hari ke Aceh (kalau hanya tugas beberapa hari, maka bisa menginap di hotel bagus), saya sampai minta numpang juga di kamar hotelnya demi untuk mandi!

Sebelum memasuki bulan kedua, saya keliling untuk mencari guest house atau motel/hotel yang saya pikir pasti memiliki generator listrik karena bukan merupakan rumah pribadi. Pertanyaan utama ke resepsionis selain “ada kamar kosong?” adalah “ada generator?”. Pilihan pertama saya jatuh pada Wisma Pringgondani milik TNI AU. Memang wisma ini dioperasikan TNI AU dan diperuntukkan untuk anggota TNI, tetapi tamu umum boleh menyewa jika kamar tersedia. Karena demikianlah saya tidak dapat tinggal lama di wisma ini. Hanya sekitar satu minggu, karena setelahnya ada acara yang mana banyak anggota TNI akan menginap di wisma tersebut. Lokasi wisma ini dekat dengan toko swalayan Pante Pirak. Nyaman tinggal di wisma ini, hanya saja saat itu banyak sekali nyamuk.

Setelahnya, saya menimbang-nimbang apakah akan tinggal di Hotel Medan saja atau di salah satu hotel di sebelahnya, Hotel Prapat atau Hotel Wisata. Saya sudah mencari di kawasan lain, tetapi jauh dari pusat pertokoan. Saya ingin mudah untuk membeli kebutuhan sehari-hari, terutama makanan.

Dari segi biaya, Hotel Medan lebih mahal daripada kedua hotel tersebut di atas. Hotel Prapat memiliki desain lorong terbuka, yaitu kamar-kamar tidaklah berada di bangunan tertutup. Saya ragu akan keamanannya dan juga kalau hujan, apakah air akan terciprat masuk ke dalam kamar? Maka saya putuskan untuk tinggal di Hotel Wisata. Hotel ini sepertinya ruko yang dijadikan penginapan. Kamarnya cukup nyaman. Kamar mandinya kecil, tapi yang penting bagi saya adalah air lancar. Selama saya tinggal di sana, ketika kota Banda Aceh mengalami mati listrik, generator hotel dapat berfungsi dengan baik walau para tamu diminta untuk tidak menggunakan daya berlebihan selama pasokan listrik sedang bergantung pada generator. Secara keseluruhan, tidak ada masalah berarti saat saya tinggal di Hotel Wisata.

Internet
Untuk sambungan internet ke laptop saat berada di luar kantor atau di hotel, saya pribadi memang sudah lama memakai layanan portable modem dari Telkomsel. Sinyalnya cukup lancar.

Makanan dan groceries
Karena tidak ada dapur yang bisa saya gunakan di hotel, maka saya selalu membeli makanan jadi. Ada beberapa kios makanan semacam warteg di pinggir kompleks pertokoan Rex yang menjadi langganan saya untuk membeli makan malam dan/atau makan pagi/sahur.

Untuk belanja groceries, saya ke pasar swalayan Pante Pirak yang tersebar di banyak tempat karena ini adalah pemain lokal yang utama di sana.

Sabang (Pulau Weh)
Ada rekan kantor yang ingin ke Sabang yang terletak di Pulau Weh dan mengajak saya ikut serta. Pastilah Anda sudah tahu, bahwa Sabang, sebagaimana lagu Dari Sabang Sampai Merauke, merupakan kota terujung di bagian Barat negara kita. Wah, kapan lagi saya bisa ke sana? Tentu saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini walau hanya pulang-hari alias one day trip. Kami sayangnya tidak ada waktu ekstra untuk bermalam di sana.

Kapal cepat antara Pelabuhan Ulee Lheue dan Pulau Weh hanya berlayar dua kali dalam sehari. Pada waktu pagi adalah untuk rute ke Pulau Weh. Pada sore hari adalah untuk rute sebaliknya. Karena kami tidak akan bermalam, maka kami harus menuruti jadwal kapal ini. Pelabuhan Ulee Lheue dan sekitarnya menjadi saksi bisu dahsyatnya tsunami pada akhir Desember 2004. Terlihat infrastruktur pelabuhan adalah hasil rehabilitasi pasca-tsunami. Sebelum menuju pintu masuk pelabuhan, ada kuburan massal korban tsunami tak dikenal.

Sesampainya di Pulau Weh, mobil sewaan kami sudah menunggu. Saya tidak mengurus reservasi atau sewanya, sehingga tidak tahu persis mekanismenya. Mobilnya sejenis minibus tua tanpa AC. Pak supir sempat mampir ke pekerjaan sampingannya mengambil botol galon kosong (untuk diisi ulang), sebelum mengantarkan kami ke pertokoan terdekat untuk membeli penganan.

Uniknya, toko-toko di sini mayoritas masih ‘menganut’ siesta seperti yang dilakukan di sebagian wilayah di Spanyol. Terjemahan singkat dari ‘siesta‘ adalah tidur siang. Pengaruhnya adalah ke jam operasional toko. Mereka tutup setelah makan siang dan buka kembali di sore hari. Sebelum membeli makanan kemasan, jangan lupa mengecek tanggal kadaluwarsanya. Kami menemukan banyak sekali kemasan biskuit yang sudah kadaluwarsa. Mungkin karena konsumen di sana tidak terlalu banyak, sehingga barang yang dijual susah laku. Atau memang si pemilik toko yang tidak mempedulikan kualitas dan keamanan makanan yang dijual.

Pak supir lalu mengantarkan kami ke Pantai Iboih. Kami makan siang ala kadarnya sebentar. Lalu kami naik perahu kelotok yang memiliki kaca di bagian dasar perahu untuk penumpang dapat melihat keindahan bawah laut tanpa harus snorkeling dan berbasah-basahan. Setelah itu, kami menuju Tugu Kilometer Nol dengan melewati jalan sempit berkelok di antara kawasan hutan lindung. Senang sekali saya bisa mengunjungi titik terujung Barat negeri ini! 

Labels: