Evakuasi!!!

Anda bekerja di gedung bertingkat? Pernah mengalami evakuasi saat berada di gedung bertingkat? Saya sudah pernah beberapa kali, baik untuk latihan (drill) maupun karena benar-benar ada kejadian yang mengharuskan penghuni gedung untuk dievakuasi.

Pertama kali seingat saya di tahun 2003. Saya sedang menjalani proses seleksi di suatu perusahaan di bilangan Jalan Sudirman, Jakarta Selatan. Gedung kantornya kira-kira ada sampai tingkat 20. Perusahaan tersebut ada di lantai 10.

Tiba-tiba pengeras suara dari manajemen gedung berbunyi, mengumumkan bahwa ada ancaman bom (!) dan kami diminta untuk segera meninggalkan gedung. Lift masih boleh digunakan, sehingga kami tidak turun menggunakan tangga darurat.

Ketika sudah sampai lantai dasar, sudah banyak orang berkumpul di sekitar lobby luar dan halaman gedung. Karena banyak orang yang tidak percaya akan ancaman ini, mereka santai saja duduk-duduk, sehingga membuat satpam gedung dan para polisi 'geregetan'. Tentulah seharusnya gedung harus dijauhi. Bagaimana kalau benar-benar ada bom?

Berikutnya, saya pernah menjalani evakuasi di akhir tahun 2006. Kali ini karena ada gempa. Hari itu sudah pukul 18:00, saya masih bekerja di kantor saya di lantai 16. Meja saya terletak di sebelah jendela. Tiba-tiba terdengar suara, "krek!". Pikir saya, "suara apa itu ya?". Lalu tirai jendela melambai-lambai. Saya juga merasakan kursi saya bergetar. Wah, gempa!

Sekitar 30 detik kemudian, mayoritas teman kantor saya langsung evakuasi untuk keluar gedung. Sedangkan saya malah lambat-lambat. Jangan dicontoh ya! Saya sempat matikan komputer dulu dan membereskan tas, karena saya pikir ya sekalian pulang kantor saja. Lalu saya turun ke lantai dasar..... memakai lift! Saya tahu kalau evakuasi tidak boleh pakai lift, tapi saat itu benar-benar saya tidak terpikir!

Ketika sampai ke lantai dasar, saya heran, kenapa orang-orang tidak rebutan lift ya? Lalu saya bergabung dengan teman-teman kantor di lapangan terbuka di sebelah gedung. Mereka terlihat terengah-engah kecapaian dan heran kenapa saya bisa sampai lebih dahulu ke lantai dasar padahal mereka meninggalkan lantai 16 lebih awal daripada saya. Barulah saya menyadari bahwa seharusnya saya turun lewat tangga darurat! Untung saja tidak terjadi apa-apa ketika saya menggunakan lift tadi.

Cerita ketiga dan terbaru adalah tanggal 11 Juni lalu, tetapi ini untuk latihan (drill) evakuasi. Kantor saya berada di lantai 12-13. Beberapa teman kantor sudah tahu akan rencana latihan ini, sehingga mereka buru-buru meninggalkan kantor menggunakan lift sebelum alarm tanda bahaya dinyalakan untuk memulai latihan. Saya juga sudah tahu, tetapi saya memang ingin mengikuti latihan ini.

Kantor saya sudah memiliki perencanaan khusus dalam menghadapi kejadian luar biasa yang memerlukan evakuasi. Para karyawan terbagi ke dalam beberapa kelompok evakuasi, di mana masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang karyawan yang ditunjuk menjadi warden. Warden dilatih untuk memandu para karyawan lain untuk keluar gedung saat evakuasi. Mungkin karena ini hanya latihan, tentu banyak yang malas-malasan sampai satpam kantor harus sedikit memaksa agar segera ikut evakuasi.

Sesampainya di lantai dasar, saya melihat kantor-kantor lain sangat teratur. Warden mereka membawa bendera dan karyawan lain berbaris rapi di belakangnya. Wah, mana bendera kantor saya ya? Salah satu teman kerja saya sampai berceletuk, "We should have been dead by now."  Harus lebih serius lagi nih dalam latihan evakuasi berikutnya.

Keesokan harinya, saya yang jarang berolahraga ini merasakan pegal yang luar biasa pada betis saya. Memang sepertinya saya harus lebih sering latihan jalan kaki, terutama naik-turun tangga.

Baca tulisan saya dua tahun lalu tentang apa yang harus dilakukan saat gempa, di sini.

Labels: