Eyang kakung (kakek) dari pihak bapak saya meninggal dunia
pagi ini dalam usia menjelang 89 tahun. Sedih sekali hati ini. Sejak beberapa
bulan lalu, kesehatan eyang memburuk dan dirawat di RS Pertamina. Belum lama
ini eyang pulang untuk dirawat di rumah. Ketika dirawat di rumah sakit, kami
anak dan cucunya bergantian menginap untuk menemani eyang. Karena kesibukan di
kantor, saya mungkin termasuk yang paling jarang menemani eyang dibanding
cucu-cucu eyang yang lain. Maafkan Ummi, Eyang.
Eyang adalah seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Tidak perlu saya sebutkan dari instansi apa. Bude pernah bercerita bahwa eyang
tidak pernah mengincar jabatan dan eyang pernah dikhianati oleh sahabatnya
sendiri dalam mendapatkan suatu jabatan. Eyang merupakan keturunan seorang
wedana di mana hal ini memberikan gelar Raden di depan namanya, tetapi setahu
saya sejak saya kecil, eyang tidak pernah menggunakan gelar tersebut. Anak-anak
beliau (termasuk bapak saya) juga tidak diberikan gelar kebangsawanan.
Eyang selalu mengajarkan hidup hemat dan sederhana. Teringat
sewaktu saya kecil, eyang menasihati keluarganya untuk hemat menggunakan air. Eyang
tidak punya mobil pribadi. Hingga masa tuanya di mana eyang masih kuat berjalan
dan beraktivitas dengan sesama pensiunan lain, eyang naik bajaj kemana-mana.
Eyang suka berderma. Beliau pernah membiayai kuliah seseorang di suatu desa di
Jawa dan saat anak ini lulus sarjana, anak ini berterima kasih dan mengirimkan
foto wisudanya. Saya ingat betul melihat kiriman foto ini. Zaman itu banyak
orang masih jujur, jarang yang berbohong dalam meminta sumbangan.
Eyang juga hidup sehat. Beliau tidak merokok. Ketika saya
TK/SD, saya ingat beliau rajin mengikuti senam Wai Tan Kung di taman dekat
rumahnya bersama kakek nenek lain. Makannya selalu teratur dan ketika makan
selalu dikunyah sampai hancur sebelum makanan ditelan, sebagaimana seharusnya
cara makan yang benar. Saya lupa harus mengunyah berapa kali. Saya akui saya sangat
buruk dalam hal mengunyah ini.
Memori masa kecil yang tidak akan saya lupakan bersama eyang
adalah beliau membelikan boneka Snoopy untuk hadiah ulang tahun saya saat saya
masih TK/awal SD. Saya ingat kami naik bajaj ke tempat jual boneka tersebut, yang
saya lupa adalah lokasi tokonya. Boneka Snoopy ini masih tersimpan di kamar
saya di rumah orang tua saya. Tentu tidak akan saya buang sampai kapan pun.
Eyang suka membaca koran dan menonton berita. Dari beliaulah
saya mendapatkan kebiasaan ini. Di dalam koran akhir minggu terdapat teka-teki
silang. Eyang rajin sekali mengisi teka-teki silang, mengetik dan mengirimkan
jawabannya kepada surat kabar yang mengadakan sayembara tersebut. Dalam
menjawab teka-teki silang, tidak lupa beliau berbekal diri dengan Kamus Bahasa
Indonesia yang ia miliki. Entah berapa edisi kamus tersebut ada di lemari
bukunya.
Eyang dikebumikan di Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU)
Tonjong, Parung. Beliau bersama teman-temannya di Yayasan Wredatama merupakan pengurus
awal TPBU ini. Disebut “Bukan Umum”, karena lebih diperuntukkan bagi pensiunan
PNS dan purnawirawan. Rencananya makam eyang putri akan dipindahkan ke sebelah
makam eyang kakung. Eyang putri sudah meninggal sejak saya masih bayi.
Selamat jalan eyangku sayang. Good bye my dearest grandpa.