Ancol, Semarang, Demak, Yogyakarta

Baru awal April lalu saya jalan-jalan ke beberapa daerah di Jawa. Ceritanya om saya baru datang dari Amerika Serikat. Sudah lama sekali beliau tinggal di sana. Mungkin sudah 15 tahun lebih belum pulang kampung. Maka kali ini beliau berkunjung sebulan penuh untuk bisa keliling ke berbagai tempat.

Om saya ingin menginap di Putri Duyung Cottage supaya dapat berkumpul dengan anggota keluarga lain. Seingat saya cottage kami memiliki 2 kamar, ruang tamu, dan ruang kumpul di lantai atas. Kompleks cottage ini berada di dalam kawasan wisata Ancol, sehingga mendapatkan fasilitas tiket gratis untuk mengunjungi Dunia Fantasi (Dufan) yang juga berada di kawasan ini.

Wah, sudah lama sekali saya tidak ke Dufan. Sayangnya kami ke Dufan 2 jam terakhir sebelum jam tutup operasional. Saya langsung sempatkan untuk naik permainan favorit saya, yaitu Ontang-Anting! Ini adalah semacam ayunan yang digantungkan ke payung raksasa yang berputar. Sedangkan om, ibu, dan kakek-nenek saya memilih arena yang lebih tidak ‘ekstrim’ dan yang tidak antri panjang. Kami ke Rumah Miring, dimana berjalan di dalam rumah miring ini cukup membuat kakek-nenek saya pusing. Ooops. Lalu karena cuaca yang panas, kami ngadem di Istana Boneka. Ah, siapa yang tidak ingat Istana Boneka? Duduk mengendarai perahu kecil di dalam istana, mengikuti alur ‘sungai’, melewati koleksi boneka yang menggambarkan keragaman budaya dunia.

Sebelum ke Dufan, kami naik gondola. Mirip seperti gondola di Taman Mini Indonesia Indah. Lalu kami juga mengunjungi Sea World, melihat berbagai koleksi ikan dan akuarium raksasa.

Hari ke-2, kami berkendara ke Semarang untuk mengunjungi adiknya nenek saya (tantenya ibu dan om saya) yang sejak dulu berdomisili di sana. Perjalanan memakan waktu sekitar 12 jam. Kami menginap di hotel tua yang sayangnya kurang terawat. Lupa saya nama hotelnya. Saya yakin bangunan hotel ini bersejarah. Saya berbagi kamar dengan ibu. Untung saja, karena dengan suasana hotel yang seperti itu, saya tidak akan berani sendirian!

Hari ke-3 dan ke-4, masih di Semarang, kami menginap di rumah sepupu ibu dan om saya (alias tante saya). Rumahnya nyaman sekali. Kami berziarah ke makam buyut saya. Saya tidak ingat sih tentang buyut, tetapi saya samar-samar ingat ketika liburan ke Semarang saat usia TK dulu, buyut laki-laki saya meninggal dunia.

Dari Semarang, kami mengunjungi Masjid Demak. Saya suka mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Sayangnya di tempat seperti ini, banyak pengunjung lebih memaksudkan kunjungannya untuk berdoa meminta berkah pada kuburan raja-raja zaman dahulu yang memang ada di sekitar kompleks masjid. Menurut keyakinan saya, meminta sesuatu itu ke Tuhan, bukan ke kuburan. Tetapi karena kita tinggal di dunia penuh dengan keragaman, saya mencoba memakluminya.

Selanjutnya kami menuju Yogyakarta. Karena saat itu long week-end, suasana Yogya sangat ramai dan macet. Sayangnya Om saya tidak mau reservasi hotel sebelumnya. Setelah mencari selama 2 jam, akhirnya kami menemukan penginapan semacam motel atau guest house di dekat kawasan Malioboro. Sebetulnya kami memiliki kerabat di Yogya. Namun karena kami berbanyak, tentu saja segan untuk menginap di rumah kecil kerabat kami tersebut.

Keesokan paginya, para ibu-ibu dan saya mengunjungi Pasar Beringharjo. Pasar bersejarah ini memiliki banyak toko penjual batik, selain yang bisa kita temukan di Malioboro. Setelah belanja, kami berangkat ke Candi Borobudur. Hari itu hari Minggu. Suasana di luar kompleks candi sangat sumpek. Penuh dengan murid-murid yang sedang berdarmawisata. Para pedagang juga sangat mengganggu. Di dalam kompleks, bar lah sedikit lega. Sungguh indah dan megah Candi Borobudur ini. Sedihnya saya melihat sampah berserakan disana-sini. Bagaimana ya cara menyadarkan orang-orang untuk tidak membuang sampah sembarangan?

Selesai mengunjungi Borobudur, saya dan ibu saya memisahkan diri untuk kembali ke Yogya dengan mengendarai bus AC. Sayang kami tidak sempat mengunjungi Keraton. Kami menginap semalam di rumah kerabat ibu yang saya sebutkan tadi. Esok pagi kami harus kembali ke Jakarta karena ibu harus kembali bekerja. Baca cerita kami kembali ke Jakarta dengan kereta api di sini.

Labels: